Demak, ReaksiNasional.com – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus diperkuat dengan pembangunan karakter berbasis nilai-nilai keagamaan.
Hal tersebut disampaikan Taj Yasin saat menghadiri Tasyakuran Khotmil Qur’an ke-31 di Pondok Pesantren Ibrohimiyyah, Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat (1/5/2026).
Dalam kesempatan itu, wakil gubernur yang akrab disapa Gus Yasin tersebut juga menyerahkan bisyarah atau tali asih kepada 13 hafizah sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap para santri penghafal Al-Qur’an.
Menurutnya, perhatian pemerintah kepada para hafiz dan hafizah merupakan bagian dari upaya memperkuat fondasi spiritual masyarakat Jawa Tengah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
“Saya sowan ke sini pertama niatnya mencari keberkahan dari khataman ini dan menyampaikan bisyarah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai bentuk apresiasi kepada putra-putri yang telah menghafalkan Al-Qur’an,” ujar Gus Yasin.
Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara konsisten memberikan penghargaan kepada para penghafal Al-Qur’an yang diwisuda di berbagai daerah sebagai bentuk pengakuan atas peran strategis mereka dalam menjaga nilai moral dan spiritual bangsa.
Sebagai tokoh yang aktif mendorong penguatan pendidikan keagamaan dan pesantren di Jawa Tengah, Gus Yasin menilai para penghafal Al-Qur’an memiliki posisi penting dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat.
“Al-Qur’an itu membawa ketenangan, membawa kemakmuran hati. Orang yang hafal Al-Qur’an adalah orang-orang pilihan yang diberi amanah oleh Allah untuk menjaga kemurnian kitab suci,” katanya.
Dalam tausiyahnya, ia juga mengisahkan sejumlah peristiwa pada masa Rasulullah SAW yang menunjukkan besarnya pengaruh Al-Qur’an dalam melunakkan hati manusia, termasuk kepada mereka yang sebelumnya memusuhi Islam hingga akhirnya mendapatkan hidayah.
Menurutnya, sejarah tersebut menjadi bukti bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan sumber transformasi peradaban.
“Keindahan Al-Qur’an mampu mengubah hati yang keras menjadi lembut. Karena itu, jangan sampai kita jauh dari Al-Qur’an. Jika umat Islam dekat dengan Al-Qur’an, insyaallah hatinya akan lembut, pikirannya jernih, dan kehidupannya terarah,” ujarnya.
Namun demikian, Gus Yasin mengingatkan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada aspek hafalan semata. Para santri diminta terus mendalami tafsir, memahami asbabun nuzul, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan hanya dihafal, tapi harus dipahami. Jangan hanya tahu panjang pendek bacaannya, tapi juga mengerti maknanya. Setelah wisuda, ini bukan akhir, justru awal untuk lebih mendalami Al-Qur’an,” tegasnya.
Ia menambahkan, pesan tersebut sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membangun sumber daya manusia unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berkarakter.
Menurut Gus Yasin, pondok pesantren memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi yang mampu menghadapi tantangan modernitas tanpa kehilangan akar nilai keislaman.
“Kalau semakin banyak generasi muda yang dekat dengan Al-Qur’an dan memahami kandungannya, maka Jawa Tengah akan memiliki fondasi moral yang kokoh untuk menyongsong masa depan,” katanya.
Kehadiran Wakil Gubernur Jawa Tengah dalam acara tersebut disambut antusias para santri dan wali santri. Salah satu penerima bisyarah, Nurul Mahfirah, mengaku bangga dapat menerima apresiasi langsung dari Wakil Gubernur Jawa Tengah.
“Bangga, senang banget bisa ketemu Pak Wakil Gubernur. Speechless banget beliau bisa hadir di sini. Alhamdulillah, semoga ini bisa bermanfaat dan membawa keberkahan terus,” ujarnya.


