Ad image

Wagub Jateng Taj Yasin Soroti Kasus Bullying, Dorong Pesantren Ramah Anak

3 Min Read

, Reaksi Nasional – Wakil Gubernur , , menekankan bahwa isu perlindungan anak di lingkungan pendidikan, khususnya pondok pesantren, tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia mendorong pesantren untuk memperkuat sistem pengasuhan yang aman, nyaman, dan ramah anak guna mencegah kasus kekerasan.

Hal tersebut disampaikan Taj Yasin saat menghadiri halaqah bertema “Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak” di Pondok Pesantren Girikesumo, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat (12/12/2025).

Taj Yasin mengungkapkan, masih ditemukannya puluhan kasus kekerasan di lingkungan pesantren dalam rentang waktu 2019 hingga 2025 menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Ia menyoroti bahwa kekerasan yang terjadi tidak melulu bersifat fisik.

“Bentuk kekerasan itu tidak selalu fisik. Yang paling tinggi justru bullying (perundungan) dan tekanan mental. Ini menimbulkan ketidakpercayaan anak-anak didik kita untuk tumbuh dan menjadi pemimpin,” ujar Taj Yasin.

Menurutnya, data kasus yang tercatat kemungkinan belum mencerminkan kondisi riil di lapangan. Banyak santri yang memilih diam dan tidak melaporkan kejadian yang dialaminya kepada pihak berwenang karena beban psikologis.

“Sering kali santri berasumsi, kalau mereka bicara, harus menjaga nama pesantren dan kiai, sehingga tidak berani menyampaikan,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Taj Yasin juga menyoroti pola senioritas di pesantren. Meskipun pelibatan santri senior dalam kepengurusan adalah bagian dari pendidikan kepemimpinan, ia menegaskan perlunya pendampingan ketat agar wewenang tersebut tidak disalahgunakan menjadi ajang penekanan.

Ia mengingatkan bahwa pemberian ta’zir atau hukuman bagi santri yang melanggar aturan harus tetap dalam koridor pendidikan (mendidik), bukan pelampiasan emosi atau kekerasan. Pesantren, kata dia, harus menjadi ruang inklusif dan aman bagi seluruh santri.

Senada dengan Wagub, Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Fatkhurronji, menyatakan bahwa mewujudkan pesantren ramah anak memerlukan ekosistem yang saling mendukung.

“Pesantren yang aman dan nyaman tidak cukup dilihat dari sisi fisik. Harus ada kenyamanan dalam proses pendidikan, dengan jejaring antara pengasuh, orang tua, santri, masyarakat, serta dukungan pemerintah,” jelas Fatkhurronji.

Kegiatan halaqah ini diharapkan menjadi momentum penguatan komitmen para ustaz dan ustazah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas kekerasan, namun tetap memegang teguh nilai-nilai keilmuan dan akhlakul karimah sebagai ciri khas pesantren. (*)

Share This Article