SEMARANG, ReaksiNasional.com – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak mahasiswa penggiat bahasa Arab yang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Bahasa Arab se-Indonesia (ITHLA) untuk menghidupkan kembali khazanah tulisan Arab Pegon sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus instrumen diplomasi Indonesia di tingkat global.
Ajakan tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Gus Yasin saat menghadiri Pelantikan Serentak dan Rapat Kerja Nasional ITHLA di Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Jumat (3/4/2026). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa penguasaan bahasa Arab tidak hanya terbatas pada aspek lisan, tetapi juga perlu diimbangi dengan pelestarian tradisi tulis, khususnya Arab Pegon.
Menurutnya, Arab Pegon memiliki nilai historis tinggi sebagai media komunikasi lintas budaya di Nusantara. Sistem penulisan berbasis huruf hijaiyah yang dimodifikasi untuk bahasa lokal seperti Jawa dan Melayu tersebut menjadi simbol perpaduan intelektual Islam dan identitas budaya sejak masa kerajaan hingga tradisi pesantren modern.
“Pegon ini dulu di era kerajaan menjadi forum antar-kerajaan di Nusantara,” ujar Taj Yasin.
Ia menilai, di masa lalu Arab Pegon telah digunakan sebagai sarana komunikasi delegasi antarwilayah, mulai dari Jawa hingga Semenanjung Melayu. Oleh karena itu, revitalisasi Pegon dinilai dapat memperkuat identitas Indonesia dalam diplomasi budaya di era modern.
Taj Yasin juga mendorong ITHLA untuk tidak hanya fokus pada penerjemahan bahasa Arab ke dalam huruf Latin, tetapi mulai berinovasi dengan mengembangkan penggunaan Pegon di platform digital. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat “dzauq” atau rasa bahasa dalam memahami bahasa Arab secara lebih mendalam.
Selain aspek budaya, ia menyoroti peran strategis ITHLA sebagai organisasi yang berpotensi mencetak delegasi internasional. Dengan posisi Timur Tengah yang strategis dalam geopolitik dan ekonomi global, kemampuan bahasa Arab dinilai menjadi modal penting dalam diplomasi.
Ia mengapresiasi langkah ITHLA yang telah mengirimkan pengajar bahasa Arab ke sejumlah negara ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Ke depan, ia berharap kontribusi tersebut dapat diperluas hingga ke ranah politik internasional.
“Organisasi ITHLA bisa menjadi delegasi utusan Indonesia untuk melakukan politik internasional. Jika kita memiliki kompetensi bahasa yang kuat, mahasiswa bisa menjadi penyambung lidah Indonesia dalam mengomunikasikan berbagai isu global,” imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Taj Yasin yang mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam pengembangan sumber daya manusia berbasis pesantren dan bahasa Arab. Melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergis Pesantren (LFSP), Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah membuka program beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren dari jenjang S1 hingga S3, baik di dalam maupun luar negeri.
Hingga kini, tercatat sebanyak 439 pendaftar tengah mengikuti proses seleksi program tersebut. Ia berharap ITHLA dapat bersinergi dengan pemerintah daerah dalam memperkuat program pendidikan dan pengembangan bahasa ke depan.
Taj Yasin juga menyampaikan ucapan selamat kepada kepengurusan ITHLA yang baru dilantik. Ia berharap hasil Rakernas mampu melahirkan gagasan inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat serta memperkokoh peran bahasa Arab sebagai alat pemersatu bangsa.


