Wagub Jateng Apresiasi Program AGUS PBNU, Perkuat Gizi dan Literasi Al-Qur’an Santri

3 Min Read
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menghadiri peluncuran program Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri (AGUS) di Pondok Pesantren Al Uswah, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (8/3/2026), sebagai bentuk dukungan penguatan literasi Al-Qur’an dan pemenuhan gizi santri.

SEMARANG, ReaksiNasional.com – Pemerintah Provinsi mengapresiasi peluncuran program Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri (AGUS) yang diinisiasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai langkah konkret memperkuat kualitas santri, baik dari sisi pendidikan Al-Qur’an maupun pemenuhan gizi.

Apresiasi tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat menghadiri peluncuran program AGUS di Pondok Pesantren Al Uswah, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (8/3/2026). Ia menilai program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung program nasional pemenuhan gizi masyarakat.

“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengapresiasi PBNU dan seluruh jaringan NU yang ikut menyukseskan dua program ini, yaitu penguatan pembelajaran Al-Qur’an melalui distribusi mushaf serta dukungan terhadap pemenuhan makanan bergizi,” ujar Taj Yasin.

Mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wagub menjelaskan bahwa pemerintah provinsi selama ini juga memberikan perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an. Sejak 2018, Pemprov Jateng memberikan tali asih kepada para penghafal Al-Qur’an sebagai bentuk penghargaan sekaligus motivasi bagi generasi muda untuk terus mencintai dan mempelajari Al-Qur’an.

Menurutnya, distribusi mushaf Al-Qur’an melalui program AGUS diharapkan semakin mendorong santri untuk mempelajari, menghafal, serta mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Program AGUS diluncurkan dengan distribusi 100 ribu mushaf Al-Qur’an senilai sekitar Rp10 miliar serta bantuan 20 ton telur untuk pesantren. Program ini digagas oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU bekerja sama dengan Yayasan Al Fatihah.

Manajer Program AGUS, Ulun Nuha, menjelaskan kebutuhan dukungan bagi santri masih cukup besar. Berdasarkan data Kementerian Agama, terdapat lebih dari 28 ribu pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama dengan sekitar 1,6 juta santri mukim. Bahkan secara keseluruhan jumlah santri diperkirakan mencapai lima juta orang.

Ia mengungkapkan, di sejumlah pesantren masih ditemukan keterbatasan mushaf Al-Qur’an sehingga santri harus bergantian saat belajar. Selain itu, beberapa riset juga menunjukkan masih adanya persoalan gizi di kalangan santri, termasuk temuan penelitian yang menyebut lebih dari 50 persen santri perempuan mengalami kekurangan gizi.

“Santri adalah masa depan kita. Oleh karena itu RMI PBNU bekerja sama dengan Yayasan Al Fatihah meluncurkan program Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri,” kata Ulun Nuha.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa program AGUS merupakan bagian dari ikhtiar organisasi untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam mendukung program pemenuhan gizi nasional.

Menurutnya, PBNU juga telah menjalin kerja sama dengan pemerintah dalam pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Hingga kini hampir 200 titik telah diresmikan dan lebih dari 300 titik lainnya masih dalam proses.

Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan semakin banyak santri yang mendapatkan akses terhadap makanan bergizi sekaligus dukungan sarana pembelajaran Al-Qur’an yang memadai.

“Alhamdulillah sore hari ini, RMI meluncurkan satu lagi program yang menjadi wujud ikhtiar untuk menyumbangkan bantuan dan menambah yang dirasakan sebagai kebutuhan di lingkungan pondok pesantren,” ujar Yahya.

Share This Article