Tanjakan Silayur Kembali Makan Korban, Warga Hidupkan Tradisi Ruwatan

3 Min Read
Warga RW 04 Silayur Lawas Duwet menggelar rapat koordinasi persiapan ruwatan di Kelurahan Bringin, Ngaliyan, Semarang, Jumat (10/4/2026), sebagai ikhtiar keselamatan di Tanjakan Silayur.

, ReaksiNasional.com – Tanjakan Silayur di Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang kembali menjadi sorotan warga karena kerap terjadi kecelakaan yang memakan korban. Lokasi tersebut bahkan dikenal luas di media sosial dengan sebutan “tanjakan tengkorak” akibat tingginya angka kecelakaan dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai insiden dilaporkan terjadi di kawasan tersebut, mulai dari pengendara sepeda motor yang terjatuh di tikungan hingga kecelakaan kendaraan besar seperti mobil dan truk akibat rem blong yang berujung pada korban jiwa. Sejumlah warga menyebut, pengendara yang melintas kerap mengalami hal tidak biasa, seperti merasa jalan mendatar atau melihat halangan di jalan yang memicu kecelakaan.

Sebagai upaya meminimalisir kejadian serupa, warga RW 04 Silayur Lawas Duwet menginisiasi kembali tradisi sedekah bumi dan pagelaran wayang sebagai bagian dari ruwatan. Tradisi ini sebelumnya pernah dilaksanakan hingga tahun 1980 dan kini dihidupkan kembali sebagai bentuk ikhtiar keselamatan sekaligus pelestarian budaya.

Ketua RW 04, Asrondi, menjelaskan bahwa tradisi tersebut dahulu digagas oleh tokoh setempat dan rutin dilaksanakan setiap bulan Apit atau Dzulqa’dah. Namun, setelah wafatnya tokoh yang menginisiasi kegiatan tersebut, tradisi tersebut sempat terhenti selama puluhan tahun.

Ia menegaskan bahwa pelaksanaan ruwatan kali ini dikemas secara sederhana dengan nuansa religius, berupa tumpengan dan doa bersama tanpa unsur klenik. Selain itu, kegiatan ini juga telah mendapatkan restu dari para sesepuh setempat.

Menurutnya, upaya tersebut tidak semata-mata dikaitkan dengan kondisi geografis atau meningkatnya volume kendaraan, melainkan sebagai bentuk ikhtiar warga dalam memohon keselamatan sekaligus menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat Jawa.

Ketua panitia, Supadi, menambahkan bahwa awalnya kegiatan ini direncanakan hanya untuk lingkup internal warga. Namun, tingginya antusiasme masyarakat membuat kegiatan tersebut akan dibuka untuk umum dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk budayawan dan pemangku kebijakan di Kota Semarang.

Seluruh rangkaian kegiatan ruwatan rencananya akan dipusatkan di Lapangan Voli RT 02 RW IV Silayur Lawas Duwet. Selain aspek spiritual dan budaya, kegiatan ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi dengan melibatkan pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.

Warga berharap, melalui kegiatan tersebut, keselamatan pengguna jalan di Tanjakan Silayur dapat meningkat, sekaligus memperkuat kembali nilai-nilai budaya lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Share This Article