SEMARANG – Jalan Alas Roban, jalur pantura paling legendaris di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dikenal luas karena tanjakan curam, tikungan tajam, serta deretan kisah mistis yang melekat.
Aura yang mencekam dari kawasan yang dijuluki “jalur tengkorak” ini kini diangkat ke layar lebar melalui fim horor berdujul “Alas Roban”.
Film karya sutradara Hadrah Daeng Ratu ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 15 Januari 2025 mendatang. Sebelum tayang serentak, film horor Alas Roban resmi merilis trailer dan poster perdana dengan gala preimere di beberapa titik, termasuk kota Semarang.
Sambutan Warga Luar Biasa
Dalam acara gala premiere yang digelar di Kota Semarang, Selasa (23/12/2025) lalu disambut antusias oleh warga Kota Semarang. Bapak-bapak, Ibu-ibu, muda-mudi, mahasiswa dan para remaja menyerbu The Park Semarang XXI dan Cinepolis Java Super Mall Semarang yang menjadi pusat acara.
Rahmat, warga asal Gringsing Barang yang sedang menempuh pendidikan di UPGRIS Semarang tidak mau kelewatan momen itu.
“Saya sebagai putra daerah Batang harus nonton film ini. Apalagi lokasi yang diangkat Alas Roban yang merupakan wilayah Batang. Saya membeli tiket via aplikasi online, ternyata animo luar biasa sampai space tiket habis,” ungkapnya melalui rilis, Jumat (26/12/2025).
Kisah utama film ini menyoroti teror gaib yang menimpa seorang ibu yang berjuang menantang kekuatan dunia lain demi menyelematkan anaknya, dimana alur cerita tersebut terinspirasi dari cerita nyata yang terjadi di kawasan Alas Roban.

Nuansa Mencekam dengan Bintang Kehidupan dan Lokasi Angker
Film Alas Roban menyajikan latar cerita yang kuat di tanjakan curam kawasan Alas Roban, wilayah yang selama ini dikenal sarat dengan kejadian-kejadian yang sulit dijelaskan secara logis.
Nuansa horor semakin terasa dengan penggunaan lagu legendaris Bintang Kehidupan milik Nike Ardila sebagai backsound film, yang menambah kesan mencekam dalam trailer yang telah beredar.
Sejumlah aktor dan aktris papan atas terlihat dari proyek ini, diantaranya;
*Michelle Ziudith sebagai Sita
- Fara Shakila sebagai Gendis
- Reo Dewanto sebagai Anto
- Taskya Namya sebagai Tika
- Imelda Therinne sebagai Dewi Raras
Syuting “Alas Roban” di Malam Satu Suro
Dalam acara gala premiere yang digelar di Kota Semarang, para pemeran utama membagikan pengalaman mereka selama proses syuting yang penuh tantangan.
Michelle Ziudith mengaku film ini menjadi pengaman perdananya bermain dalam genre horor.
“Aku sendiri baru pertama kali main film horor. Tapi bebannya tidak sepenuhnya aku pukul sendiri karena aku ditandemkan dengan Fara Shakila dan Taskya Namya yang sudah sering main film horor, jadi banyak belajar dari mereka,” ujar Michelle.
Sementara, Taskya Namya yang telah lama berkecimpung di film horor, mengungkapkan, tantangan berat selama proses pengambilan gambar di Alas Roban.
“Kami sampai nangis dua hari karena capek banget. Adegan ritualnya menurutku terlalu sakral. Kami Syuting dua hari di Jalan Alas Roban, dan salah satu harinya bertepatan dengan malam satu Suro. Entah kenapa, hawanya terasa jauh lebih sakral,” tutur Taskya
Pengalaman mistis juga dialami oleh Fara Syakila. Ia mengungkapkan bahwa penata rias atau make up artist (MUA) sempat melihat sosok makhluk gaib disampingnya saat proses reading.
“Orang make up di lokasi bilang melihat ada sosok duduk disebelah aku. Tapi secara keseluruhan, pengalaman, pengalaman syuting Alas Roban sangat seru dan pastinya serem. Hawanya bikin merinding, tapi juga ada sisi sedihnya,” akunya.
Ditempat terpisah, sutradara bertangan dingin, Hadrah Daeng Ratu mengungkapkan bahwa film ini tidak hanya meminjam nama besar Alas Roban sebagai latar belakang.
Ia melakukan pendekatan mendalam dengan terjun langsung ke lokasi sebelum naskah ditulis.
“Saya datang langsung ke Alas Roban, melakukan riset, dan menemui berbagai narasumber untuk mendengar langsung cerita mistis yang beredar di sana,” kata Hadrah.
Keaslian cerita menjadi kekuatan utama film ini. Hadrah menyelipkan unsur-unsur nyata yang sudah melegenda, mulai dari tingginya angka kecelakaan di tikungan tajam hingga tradisi lokal.
“Cerita ini bersumber dari kejadian nyata, termasuk ritual pagelaran wayang setiap malam Satu Suro yang dilakukan warga Batang sebagai bentuk tolak bala,” ujarnya. (*).

