SEMARANG, ReaksiNasional.com – Semarang Zoo kembali menambah koleksi satwa setelah seekor kapibara melahirkan dua anak. Kelahiran tersebut menjadi bagian dari perkembangan koleksi satwa kebun binatang yang sebelumnya mendapatkan kapibara melalui mekanisme tukar-menukar satwa tidak dilindungi dari Taman Margasatwa Ragunan.
Dokter hewan Semarang Zoo, drh. Nurul Fauziah, mengatakan dua anak kapibara tersebut saat ini berusia hampir satu bulan dan berada dalam kondisi sehat. Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan jenis kelamin kedua anak kapibara itu karena identifikasi tidak bisa dilakukan hanya melalui pengamatan visual.
“Kondisinya, alhamdulillah sehat, dan masih terpantau diasuh oleh induknya. Tapi belum bisa diketahui jenis kelaminnya kalau hanya dengan melihat saja,” kata Nurul saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (5/6/2026).
Kapibara yang melahirkan tersebut merupakan bagian dari koleksi terbaru Semarang Zoo. Satwa itu didatangkan bersama beberapa kapibara lain dari Taman Margasatwa Ragunan menjelang pertengahan tahun lalu. Koleksi kapibara tersebut terdiri atas satu jantan dan tiga betina. Selain kapibara, satwa sitatunga yang didatangkan bersama rombongan tersebut juga sebelumnya telah melahirkan satu anak.
Nurul menjelaskan, setiap kelahiran maupun kematian satwa di Semarang Zoo dilaporkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Untuk kelahiran anak kapibara kali ini, administrasi pelaporan tambahan satwa masih dalam proses.
“Saat ini administrasi pelaporan tambahan satwa masih kita proses. Jadi belum kita laporkan ke BKSDA,” ungkapnya.
Terkait kesehatan satwa, Nurul menyebut pemeriksaan dilakukan secara rutin. Pemantauan dilakukan melalui laporan dari kiper atau penjaga satwa, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara langsung oleh tim kesehatan hewan.
“Kita melihat keterangan dari para kiper-kipernya, kemudian kita cek sendiri satwanya. Nadi, napas, dan cek fisik. Biasanya kalau ada yang sakit pasti melawan kalau kita pegang,” jelasnya.
Selain pemeriksaan rutin, pemberian vitamin dan variasi pakan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan satwa di Semarang Zoo. Menurut Nurul, perawatan yang tepat diperlukan agar kondisi satwa, termasuk anakan yang baru lahir, tetap stabil dan sehat.
Sementara itu, kiper yang merawat kapibara, Rizky, mengatakan perawatan satwa tersebut relatif tidak mengalami kendala. Kapibara merupakan satwa herbivora dari kelompok hewan pengerat yang menyukai sayur-sayuran sebagai pakan utama.
“Gampangnya karena hewan pengerat kan, kayak hewan pengerat lain, dia suka sayur-sayuran, full herbivora. Jadi, ikan nila dan lele di kolam tidak dimakan. Itu kita gunakan untuk membersihkan kolam biar tidak ada jentik nyamuk,” ujarnya.
Rizky menjelaskan, masa kehamilan kapibara tidak selalu tampak jelas secara visual. Namun, kondisi tersebut dapat diketahui karena para penjaga satwa rutin berinteraksi dan mengenali perubahan fisik maupun perilaku satwa yang dirawat.
“Kita tahu dia bunting tapi secara visual memang tidak kelihatan. Kalau anaknya tidak sehat, ya ditinggal, tidak dimakan, full herbivora. Sejauh ini tidak ada kasus begitu, beda dengan tikus atau hamster,” paparnya.
Menurut Rizky, suhu udara menjadi salah satu faktor penting dalam perawatan kapibara, terutama saat cuaca tidak menentu. Karena kapibara termasuk satwa semiakuatik, pengelola menyediakan air agar satwa dapat berendam dan menjaga suhu tubuhnya.
“Makanya kita sediain air buat dia berendam untuk menjaga suhu tubuhnya. Dia kan semiakuatik,” jelasnya.
Dengan kelahiran dua anak kapibara tersebut, Semarang Zoo berharap koleksi satwa yang ada dapat terus berkembang melalui perawatan yang baik dan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.


