SEMARANG, ReaksiNasional.com – Kota Semarang yang akan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional tahun 2026 diminta memanfaatkan momentum tersebut untuk menyosialisasikan pengajuan gelar Pahlawan Nasional bagi KH Muhammad Sholeh bin Umar atau Mbah Sholeh Darat. Permintaan tersebut disampaikan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, dalam Seminar Nasional bertema Jejak Perjuangan KH Sholeh Darat dalam rangka Penguatan Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional di The Suri Ballroom Hotel Somerset, Semarang Tengah, Kamis (29/1/2026).
Agustina mengusulkan agar sosialisasi dilakukan melalui tayangan video fragmen drama yang ditampilkan secara utuh selama 20 hingga 25 menit dalam rangkaian kegiatan MTQ Nasional. Menurutnya, upaya tersebut menjadi salah satu ikhtiar strategis untuk memperkenalkan kembali sosok KH Sholeh Darat kepada masyarakat luas sekaligus membangkitkan memori kolektif tentang kiprah dan perjuangannya.
Ia mengungkapkan masih banyak generasi muda, termasuk mahasiswa, yang belum mengenal KH Sholeh Darat sebagai tokoh nasional. Sebagian hanya mengetahui beliau sebagai pendiri Masjid Darat di Semarang Utara atau sekadar nama jalan, tanpa memahami peran besar dan kontribusinya dalam sejarah perjuangan bangsa.
Oleh karena itu, Agustina menekankan pentingnya sosialisasi yang masif dan berkelanjutan agar masyarakat, khususnya warga Kota Semarang, memahami bahwa KH Sholeh Darat merupakan ulama besar yang saat ini tengah diusulkan untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional.
Agustina menjelaskan bahwa Mbah Sholeh Darat memang tidak tercatat sebagai pejuang yang mengangkat senjata di medan perang. Namun, Pemerintah Kota Semarang menilai perjuangan beliau layak mendapatkan pengakuan sebagai pahlawan intelektual. Melalui dakwah, pendidikan, dan karya-karya keilmuan, KH Sholeh Darat dinilai memberikan kontribusi besar dalam membentuk karakter dan pemikiran para tokoh bangsa.
Ia menyebutkan bahwa murid-murid KH Sholeh Darat di antaranya telah lebih dahulu menyandang gelar Pahlawan Nasional, seperti pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan, serta Raden Ajeng Kartini. Hal tersebut, menurutnya, menjadi bukti kuat pengaruh intelektual dan spiritual KH Sholeh Darat dalam sejarah Indonesia.
Sebagai perbandingan, Agustina juga menyinggung sosok proklamator kemerdekaan Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta, yang dikenal tidak berjuang melalui peperangan bersenjata secara langsung. Keduanya berjuang melalui pemikiran, strategi politik, diplomasi, dan orasi, yang dinilai sejalan dengan kategori perjuangan intelektual.
Sebagai informasi, KH Muhammad Sholeh bin Umar atau Mbah Sholeh Darat merupakan ulama asal Semarang yang lahir di Jepara sekitar tahun 1820. Setelah menimba ilmu di Makkah, ia menetap di kawasan Darat, Semarang Utara, dan melanjutkan dakwah serta mengasuh pesantren yang didirikan oleh mertuanya. KH Sholeh Darat juga dikenal sebagai pelopor penulisan kitab-kitab keislaman berbahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon, yang berperan besar dalam penyebaran ilmu agama di Nusantara.


