Semangat Guru Agama di Wilayah 3T, Menjaga Harapan dari Perbatasan Negeri

3 Min Read
Aktivitas guru agama bersama siswa di wilayah perbatasan Kalimantan Utara yang menjadi bagian dari pengabdian pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

NUNUKAN, ReaksiNasional.com – Hari Pendidikan menjadi momentum refleksi terhadap perjuangan para pendidik di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Indonesia. Di tengah keterbatasan fasilitas dan akses yang sulit, para guru agama di perbatasan Kalimantan Utara tetap menjalankan pengabdian dengan penuh ketulusan demi membentuk generasi berkarakter dan beriman.

Salah satunya adalah Ronny, guru agama Kristen yang telah mengabdi selama 26 tahun di Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Baginya, mengajar bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup untuk menanamkan nilai-nilai spiritual kepada anak-anak di wilayah perbatasan.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, saya berharap anak-anak di perbatasan semakin mendapat perhatian yang sama. Mereka punya mimpi besar, hanya perlu didukung agar bisa berkembang,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Pengabdian serupa dijalani Halifah, guru Pendidikan Agama Islam di Sembakung yang telah bertugas selama 21 tahun. Berbagai tantangan seperti perjalanan menyusuri sungai, banjir, hingga minimnya sarana pendidikan menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangatnya dalam mendidik dan membimbing siswa.

“Melihat anak-anak mulai mempraktikkan ibadah dengan benar dan menunjukkan akhlak yang baik adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” tutur Halifah.

Di wilayah lain, Puji Astuti yang telah lebih dari dua dekade mengajar agama Buddha di SDN 001 Tanjung Selor juga menghadapi tantangan tersendiri. Meski fasilitas pendidikan relatif lebih memadai, sistem zonasi membuat siswa beragama Buddha tersebar di sejumlah sekolah.

Meski demikian, ia melihat harmoni lintas agama tumbuh dengan baik di lingkungan pendidikan.

“Semoga ke depan pendidikan semakin inklusif dan semua peserta didik mendapatkan layanan yang adil, tanpa terkecuali,” katanya.

Sementara itu, Anselmus Helaq, guru agama Katolik di Desa Sesua, Malinau Barat, terus berupaya menghadirkan metode pembelajaran yang kreatif selama 21 tahun pengabdiannya.

Ia berharap pendidikan nasional tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat kedalaman spiritual peserta didik.

“Saya berharap pendidikan kita terus maju dengan tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual,” ujarnya.

Kisah para guru tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan di wilayah perbatasan bukan semata soal transfer ilmu pengetahuan, melainkan bentuk pengabdian tulus kepada bangsa dan negara.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, Muh. Saleh, menegaskan para guru agama di daerah perbatasan memiliki peran strategis dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan harmoni sosial.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga tentang karakter dan spiritualitas. Para guru di perbatasan telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka adalah penjaga nilai dan harapan bangsa,” ujar Saleh.

Ia memastikan Kementerian Agama akan terus memberikan perhatian dan dukungan bagi para guru di wilayah 3T agar pemerataan pendidikan berkualitas dapat terus diwujudkan.

Dari perbatasan Kalimantan Utara, para guru agama tersebut membuktikan bahwa pendidikan yang lahir dari ketulusan mampu menembus keterbatasan dan menjadi cahaya bagi masa depan Indonesia.

Share This Article