Ad image

Sekda Bandung: Insinerator Solusi Cepat Atasi Sampah, Kacapiring Jadi Percontohan

3 Min Read

– Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung, , menilai penggunaan teknologi sebagai salah satu metode paling cepat dan efektif untuk mengurangi volume timbulan sampah di Kota Bandung saat ini. Hal tersebut dinilai mendesak mengingat adanya pembatasan kuota pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

Pernyataan itu disampaikan Iskandar saat melakukan monitoring di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Rumah Deret Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, dan TPS Kecamatan Batununggal, Kelurahan Kacapiring, Selasa (30/12/2025).

“Kalau kita lihat secara umum, pengolahan sampah ini (insinerator) memang menjadi cara paling cepat dan paling efektif untuk saat ini,” ujar Iskandar.

Iskandar mencontohkan keberhasilan pengelolaan sampah di TPS Kelurahan Kacapiring. Menurutnya, wilayah tersebut mengalami perubahan signifikan, dari yang semula kumuh menjadi tertata rapi berkat adanya mesin pengolah sampah.

Bahkan, Kelurahan Kacapiring kini telah mandiri dan tidak lagi mengirimkan sampah ke TPA. Fasilitas di sana juga mampu melayani pengolahan sampah dari wilayah sekitar, seperti Kelurahan Samoja.

“Tadi dilaporkan bahwa Kelurahan Kacapiring sudah tidak perlu lagi mengirim sampah ke TPA. Artinya, sampahnya sudah bisa diolah sendiri dengan mesin yang ada,” jelasnya.

Berbeda dengan Kacapiring, kondisi di TPS Rumah Deret Tamansari masih menghadapi kendala. Iskandar mencatat kapasitas pengolahan di lokasi tersebut masih terbatas, yakni maksimal 1 ton per hari, serta terdapat beberapa hambatan teknis.

Oleh karena itu, Pemkot Bandung berencana mengoptimalkan fungsi TPS Tamansari, termasuk opsi penambahan mesin pengolah sampah mengingat volume sampah di wilayah tersebut cukup besar.

“Kita akan upayakan agar bisa difungsikan secara maksimal. Kalau memungkinkan, tentu akan ditambah mesin pengolahan lagi di sini,” tuturnya.

Secara keseluruhan, Pemkot Bandung telah merencanakan pengadaan lebih dari 20 unit mesin pengolah sampah pada tahun anggaran mendatang. Iskandar menyebut teknologi yang akan digunakan bervariasi, mulai dari Refuse Derived Fuel (RDF), komposter, hingga teknologi lainnya sesuai kebutuhan lokasi.

Langkah ini diambil untuk menekan produksi sampah harian Kota Bandung yang mencapai angka 1.500 ton. Iskandar menegaskan, ketergantungan pada pengangkutan ke TPA tidak lagi bisa dipertahankan sebagai solusi tunggal.

“Kalau hanya mengandalkan pengangkutan ke TPA Sarimukti saja, itu sudah dibatasi. Jadi tidak bisa mengejar produksi sampah kota kita dengan kapasitas yang diperbolehkan ke sana,” pungkasnya.

Share This Article