Sedekah Bumi di Silayur, Warga Harapkan Keselamatan Pengguna Jalan

2 Min Read
Warga RW 04 Silayur Lawas Duwet, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, menggelar doa bersama dalam tradisi Sedekah Bumi dan ruwatan untuk memohon keselamatan bagi pengguna jalan Silayur, Sabtu (16/5/2026). Foto: Ahmad Rifqi

, ReaksiNasional.com – Warga RW 04 Silayur Lawas Duwet, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, kembali menggelar tradisi sedekah bumi dan ruwatan sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan bagi masyarakat, khususnya pengguna jalan di kawasan tanjakan Silayur yang kerap terjadi kecelakaan.

Tradisi yang digelar pada Sabtu (16/5/2026) sore itu diawali dengan doa bersama dan tahlil. Sejumlah tumpeng, buah-buahan, serta aneka jajanan disusun membentuk gunungan di tengah warga yang mengikuti prosesi sedekah bumi.

Masyarakat setempat meyakini para wali di tanah Jawa, terutama Syekh Subakir yang dimakamkan di Gunung Tidar, Magelang, memiliki peran penting dalam memberikan keselamatan dan kemakmuran bagi masyarakat.

Kepercayaan tersebut menjadi salah satu dasar warga kembali menghidupkan tradisi ruwatan yang telah lama tidak dilaksanakan. Tradisi itu kembali digelar setelah kawasan tanjakan Silayur beberapa kali menjadi lokasi kecelakaan lalu lintas dan viral di media sosial dengan sebutan “tanjakan tengkorak”.

Selain sedekah bumi, warga juga menggelar pagelaran wayang kulit pada malam harinya dengan lakon “Wahyu Ketentreman” sebagai bagian dari rangkaian ruwatan.

Ketua RW 04 Silayur Lawas Duwet, Arsondi, menuturkan tradisi ruwatan telah berlangsung sejak era Mbah Kromo pada 1960-an. Tradisi tersebut rutin dilakukan pada bulan Apit atau Dzulqa’dah dalam kalender Hijriah.

“Mbah Kromo saat itu menjadi Kepala Dukuh Silayur sampai tahun 1975 karena wafat dan dilanjutkan oleh Mbah Nasir sampai wafat pada tahun 1980,” jelasnya seusai kegiatan sedekah bumi.

Sementara itu, Sekretaris Camat Ngaliyan, Soegiman, mengapresiasi inisiatif warga yang kembali menyelenggarakan tradisi ruwatan sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.

“Terima kasih kepada warga yang telah mengadakan ruwatan Silayur. Kami sangat antusias dan menyambut positif usaha masyarakat dalam nguri-uri budaya,” ujarnya.

Ia berharap tradisi tersebut dapat menjadi awal yang baik bagi masyarakat bersama pemerintah dalam menjaga dan melestarikan budaya agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

“Harapannya bisa memberikan keselamatan secara keseluruhan kepada masyarakat pengguna jalan, dan khususnya warga Silayur,” pungkasnya.

Share This Article