Santri Punya Saham Besar dalam Berdirinya NKRI, Kiai Ubaidullah: Sejarah Tidak Bisa Dipungkiri

3 Min Read

SEMARANG — Rais Syuriyah Pengurus Wilayah (PWNU) , KH Ubaidullah Shodaqoh, menegaskan bahwa peringatan bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi momentum monumental untuk mengenang peran besar para santri dan kiai dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Hal itu disampaikan Kiai Ubaid saat membuka acara Ngaji Bandongan dan Ijazah Kubro dalam puncak resepsi perayaan Hari Santri 2025 di Stadion Pandanaran, Wujil, Bergas, Kabupaten Semarang, Kamis malam (23/10/2025).

Menurutnya, peringatan Hari Santri merupakan bentuk pengakuan nasional atas sejarah panjang perjuangan kaum santri dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Santri dan para kiai memiliki saham besar atas berdirinya negara ini. Terutama pada 22 Oktober, ketika Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari dengan tegas mengeluarkan fatwa jihad melawan penjajah,” ujar Kiai Ubaid.

Ia menegaskan, tanpa Resolusi Jihad yang dikeluarkan pendiri Nahdlatul Ulama tersebut, tidak akan ada peristiwa heroik 10 November di Surabaya.

“Kalau tidak ada perang 10 November, mungkin eksistensi negara yang baru berumur tiga bulan itu tidak akan diakui oleh dunia internasional,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Al Itqon, Bugen, Semarang itu.

Kiai Ubaid menjelaskan, fatwa jihad yang dikeluarkan Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari telah memantik semangat perjuangan para santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan. Ribuan syuhada gugur di medan tempur, membuktikan bahwa proklamasi 17 Agustus 1945 bukan sekadar pernyataan politik, tetapi benar-benar disokong oleh kekuatan rakyat, terutama kalangan pesantren.

“Ketika Indonesia sudah merdeka, ilmu-ilmu dari pesantren menjadi pedoman hidup di tengah masyarakat. Sejarah mencatat peran santri yang nyata, meski sempat terlupakan pada masa Orde Baru. Alhamdulillah, perjuangan menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri juga diperjuangkan oleh tokoh-tokoh NU, termasuk KH Abdul Ghaffar Rozin,” tambahnya.

Kiai Ubaid mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk mensyukuri dan menjaga warisan perjuangan para ulama dan santri. “Mari kita hidupkan kembali semangat pesantren, pendidikan ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah, dan meneruskan cita-cita para kiai pendiri NU,” pesannya.

Sementara itu, Rais ‘Aly Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), KH Ahmad Chalwani Nawawi, menambahkan bahwa para santri merupakan kelompok yang paling berani menentang penjajahan. Ia menyebut, seorang profesor asal Belanda, Martin van Bruinessen, pernah mengungkapkan dalam sebuah forum di Universitas Gadjah Mada (UGM) bahwa kelompok yang paling ditakuti penjajah Belanda adalah para santri pengamal tarekat.

“Contohnya Raden Mas Ontowiryo atau yang dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro, seorang santri sekaligus pengamal tarekat yang menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah,” ujar Kiai Chalwani.

Ia menegaskan bahwa keberanian dan keteguhan spiritual para santri menjadikan mereka tulang punggung perjuangan bangsa. “Hari Santri adalah momentum untuk mengingat kembali bahwa kekuatan spiritual dan keilmuan pesantren adalah fondasi tegaknya negeri ini,” pungkasnya.

Share This Article