KENDAL, ReaksiNasional.com – Banjir rob kembali menerjang kawasan pesisir Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Meski belum berdampak besar terhadap aktivitas melaut, fenomena pasang air laut itu mulai mempengaruhi akses menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bandengan serta memicu penurunan harga sejumlah komoditas ikan akibat tangkapan nelayan yang melimpah.
Sejak pagi, para pedagang di TPI Bandengan tetap beraktivitas seperti biasa. Musyaroh, salah seorang pedagang ikan, tampak sibuk menata berbagai hasil laut seperti cakalang, layur, terinasi, cumi hingga udang di lapaknya, Selasa (12/5/2026). Di sela aktivitasnya, ia mengaku khawatir kondisi jalan menuju TPI yang dipenuhi lumpur akibat rob membuat pembeli enggan datang.
“Kalau rob di sini sudah langganan. Beberapa hari ini mulai naik lagi, tapi belum terlalu tinggi,” ujar Musyaroh.
Menurutnya, air pasang biasanya mulai masuk ke permukiman warga selepas waktu ashar dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter. Genangan baru surut pada malam hari dan meninggalkan lumpur serta aroma asin di lingkungan sekitar.
Meski demikian, ia memastikan rob belum mempengaruhi hasil tangkapan nelayan secara signifikan. Dampak lebih dirasakan oleh para pemilik tambak di wilayah pesisir.
“Yang terdampak biasanya tambak. Kalau punya saya aman karena dipasang pagar jadi ikan tidak terbawa arus,” katanya.
Musyaroh menyebut musim tangkapan ikan saat ini justru sedang bagus. Kondisi itu membuat stok ikan melimpah dan berdampak pada turunnya harga di pasaran. Harga ikan terinasi yang sebelumnya berkisar Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram kini turun menjadi Rp30 ribu per kilogram. Sementara ikan cakalang dijual Rp20 ribu, ikan talas Rp25 ribu, cumi ukuran besar Rp35 ribu, dan udang Rp80 ribu per kilogram.
“Karena tangkapan banyak, harga jadi turun. Tapi ikan tetap segar karena langsung dari nelayan habis melaut,” jelasnya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Kendal, Triyono, juga menyebut rob belum terlalu mengganggu aktivitas nelayan karena air pasang umumnya terjadi pada sore hari.
“Rob terjadi sore hari, sementara pagi sampai siang nelayan masih bisa melaut seperti biasa,” katanya.
Ia mengakui beberapa harga komoditas ikan mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, hal itu dipicu hasil tangkapan yang cukup melimpah sehingga pasokan ikan di pasar tetap aman.
“Untuk aktivitas nelayan masih aman dan hasil tangkapan cukup bagus. Harga turun karena stok ikan banyak, selain juga dipengaruhi alat tangkap yang digunakan,” ujarnya.
Namun, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kendal, Hudi Sambodo, mengungkapkan rob tetap memberi dampak terhadap sektor perikanan, khususnya pada aktivitas kapal nelayan di wilayah muara. Ia memperkirakan penurunan hasil tangkapan mencapai 5 hingga 10 persen.
“Rob menyebabkan ombak lebih tinggi sehingga mengganggu kapal nelayan keluar masuk muara. Otomatis ada pengaruh terhadap penurunan hasil tangkapan,” ungkap Hudi.
Selain rob, pihaknya juga mengingatkan nelayan untuk mewaspadai dampak El Nino yang diprediksi berlangsung mulai Mei hingga akhir tahun 2026. Fenomena cuaca tersebut diperkirakan mempengaruhi sektor perikanan tangkap maupun budidaya.
“El Nino diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus untuk sektor perikanan,” katanya.
Hudi menjelaskan peningkatan suhu permukaan laut akibat El Nino dapat mengganggu habitat sejumlah spesies ikan yang sensitif terhadap perubahan suhu. Kondisi itu membuat ikan bergerak mencari perairan yang lebih dingin di tengah laut sehingga menyulitkan nelayan memperoleh tangkapan.
“Ikan akan mencari tempat yang lebih dingin ke tengah laut. Dampaknya hasil tangkapan bisa turun dan konsumsi BBM nelayan juga lebih boros,” jelasnya.
Menurutnya, beberapa jenis ikan seperti tongkol, cumi, dan teri diperkirakan akan lebih sulit didapat selama El Nino berlangsung. Situasi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga ikan di pasaran sesuai mekanisme pasar.
“Kami mengimbau nelayan tetap mengutamakan keselamatan saat melaut,” tandasnya.


