SEMARANG, ReaksiNasional.com – Sebanyak 490 anggota baru Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang resmi dilantik dalam rangkaian peringatan Hari Palang Merah se-Dunia di halaman Markas PMI Kota Semarang, Jalan Mgr Sugiyopranoto Nomor 35, Pendrikan Kidul, Semarang Tengah, Sabtu (9/5/2026).
Ratusan relawan dari berbagai perguruan tinggi di Kota Semarang tampak mengenakan seragam merah lengkap dengan atribut PMI dan mengikuti upacara secara khidmat. Dalam prosesi pelantikan tersebut, para anggota baru mengucapkan sumpah setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, berbakti kepada orang tua, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Ketua PMI Kota Semarang, Awal Prasetyo mengatakan pelantikan KSR sengaja digelar bersamaan dengan peringatan Hari Palang Merah se-Dunia untuk menegaskan peran relawan sebagai ujung tombak aksi kemanusiaan.
“Pelantikan korps sukarela unit Kota Semarang dilakukan secara bersama dengan peringatan Hari Palang Merah se-Dunia karena ingin menunjukkan peran relawan, khususnya korps sukarela sebagai tulang punggung aksi kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menegaskan para relawan harus menjadi pihak terdepan dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Sebelum diterjunkan sebagai relawan, para anggota KSR diwajibkan mengikuti berbagai pelatihan guna memperoleh kompetensi dasar dan meningkatkan kapasitas dalam penanganan korban.
“Mereka harus paham dulu prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, kemudian tentu saja harus sehat secara fisik, mental, dan sosial,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana dan Relawan PMI Kota Semarang, Wiwit Rijanto mengakui pelibatan relawan dari kalangan perguruan tinggi masih relatif jarang dilakukan. Menurutnya, potensi mahasiswa harus dimaksimalkan melalui peningkatan kompetensi sesuai standar kurikulum PMI.
Ia menyebut mahasiswa dari fakultas kesehatan dapat dibina menjadi tenaga terlatih dalam pertolongan pertama maupun evakuasi. Selain itu, anggota KSR juga dapat mengikuti berbagai pelatihan spesialisasi seperti asesmen kebencanaan, dapur umum, hingga perawatan keluarga.
Tak hanya itu, para anggota KSR juga berpeluang menjadi tenaga fasilitator maupun pelatih bagi unit Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah setelah mengikuti pelatihan lanjutan.
Menurut Wiwit, kebutuhan tenaga pelatih PMR di sekolah cukup tinggi, sementara banyak pelatih yang selama ini berasal dari alumni sekolah dan belum tentu memiliki kompetensi sesuai pedoman manajemen relawan PMI.
“Kalau hanya mengandalkan KSR di markas PMI Kota Semarang tidak cukup. Posko 24 jam itu saja sudah menyerap tenaga, belum yang lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, pelantikan serentak anggota KSR akan terus dilakukan setiap tahun karena dinilai lebih efektif dari sisi waktu, tenaga, hingga pembiayaan.
Setelah pelantikan, PMI Kota Semarang juga berencana memperkuat basis data keanggotaan KSR di perguruan tinggi guna mendorong keterlibatan kampus dalam penanganan kebencanaan dan aksi sosial kemanusiaan.
“Harapan kami, semua perguruan tinggi itu bisa tampil di situ, terutama dalam kebencanaan. Saya lihat memang ada beberapa perguruan tinggi yang aktif, begitu ada bencana langsung muncul,” ungkapnya.
Wiwit menilai kepedulian mahasiswa terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan merupakan modal penting dalam membangun gerakan relawan yang kuat. Ia menjelaskan tahapan keanggotaan KSR dimulai dari proses pendaftaran, orientasi kepalangmerahan, pendidikan dan pelatihan dasar, hingga pemilihan spesialisasi dan jenjang fasilitator.
“Ini semua sama, kita diklat bareng sampai pelantikan nanti juga bersama,” pungkasnya.


