Puisi untuk Bacchus, Dewa Anggur Pujaan Para Pemberontak

9 Min Read
Puisi untuk Bacchus, Dewa Anggur Pujaan Para Pemberontak
foto:amazine.co
Bacchus, salah satu dewa dalam kisah yunani kuno, seorang dewa yang melindungi ketidak-mapanan dan anti terhadap keteraturan. Dia melindungi manusia tertindas yang mendamba kebahagiaan. Karena keteraturan membuat jiwa manusia menjadi kering, dari sinilah kemudian dewa Bacchus mewujud untuk melawan keteraturan itu. Di sisi lain, para pemuja dewa Bacchus beranggapan bahwa kemapanan dan keteraturan adalah kedok para plutokrat(orang-orang kaya yang sengaja menjauhkan diri dari kaum miskin) untuk selalu mendapatkan untung dan melegitimasi kekikiran mereka terhadap kaum miskin.

Di tengah-tengah peradaban Yunani kuno yang memang belum mengenal konstitusi, para plutokrat membuat “konstitusi” sendiri untuk sengaja membuat kelas-kelas masyarakat (dari sini Karl Marx memunculkan terminologi Kelas). Para plutokrat membuat sebuah pedoman yang disebut dengan Prudensi, suatu tatanan masyarakat yang dipenuhi dengan aturan-aturan agar kehidupan masyarakat terencana. Namun sebetulnya, Prudensi ini adalah kedok agar kekayaan yang dimiliki oleh plutokrat tidak mudah diminta oleh kaum miskin. Bahkan membatasi akses kaum miskin untuk mencari matapencaharian mereka.

Bacchus diceritakan adalah seorang dewa yang dilahirkan dua kali, yang pertama dia lahir sebagai manusia biasa dari rahim Semele. Ketika masih kanak-kanak dia dibantai dan dimakan oleh para titan, namun jantungnya tidak dimakan dan diberikan kepada Zeus. Setelah Zeus memakan jantung Bacchus, dari paha Zeus kemudian Bacchus muncul dan akhirnya dia dianggap sebagai titisan Zeus.

Kelahiran Bacchus dianggap telah memotong sekat yang selama ini membatasi kehidupan manusia biasa dan para dewa. Bahkan dalam satu kisah, Bacchus mempersilahkan para manusia masuk ke istana para dewa. Bacchus bahkan lebih suka tinggal di hutan ketimbang di istana para dewa, dia tidak suka dengan perilaku para dewa yang terlalu nikmat kehidupannya. Ketika Bacchus diperintahkan kembali ke istana, dia malah meberontak.

Sebetulnya, kisah serupa ini banyak sekali jumlahnya, contoh saja yang paling populer di dunia perfilman tiongkok, yaitu kisah Sun Go Khong yang mengobrak-abrik kahyangan. Atau kita bisa melihat kisah dewa-dewa yunani yang memberontak dalam film Clash of The Titan (dan titan inilah yang menjadi musuh bebuyutan Bacchus). Bahkan kita bisa menemukan kisah serupa dalam perjalanan sunan Kalijaga. Kisah-kisah ini seolah ingin memberitahukan bahwa dalam keteraturan selalu ada pembangkangan. Karena keteraturan biasanya digunakan oleh para plutokrat atau borjuis untuk melindungi kekayaan dan kekuasaan mereka sehingga memiskinkan orang lain. Dan hal seperti inilah yang terjadi di negara kita, kita butuh seorang Bacchus, Sun Go Khong atau Kalijaga.

Ada satu ungkapan yang menarik dari Euripides , dia menyampaikan puisi dari seorang pendeta Orphis :

Sesembahan bangsa Tyre Eropa

Yang dilahirkan Zeus,

dan di kakimu tegak beratus benteng kreta

Aku mencarimu dari temaramnya pura

Beratapkan balok menawan berhiaskan ukiran

Dengan baja Chalyb dan darah lembu liar

Serta kayu-kayu cemara tersusun sempurna

Dirangkai begitu kuat, kali bening pun mengalir di sana

Seiring hari-hariku berlalu,

Akulah hamba yang mengabdi kepada Jove Idae sang dewa

Jika tengah malam Zagreus (nama lain Bacchus) mengembara, ikut mengembaralah hamba

Telah ku tahankan raungnya yang membahana

Kuhidangkan pesta-pestanya yang merah dan berdarah

Kukobarkan api gunung bunda nan agung

Terbebaslah diriku dan disebutlah aku

Seorang Bacchis (pengikut Bacchus) di antara kaum pendeta yang terutus.

Berbalut jubah suci putih aku terlahir bersih

Dari kodrat manusia yang nista dan lumpur liang kubur

Terjauhkan dari bibirku senantiasa sentuhan daging aneka rupa di mana hidup pernah bertahta

Dalam buku The History of Western Phylosophy karya Bertrand Russell, ada sebuah puisi untuk Bacchus yang memberikan petunjuk kepada jiwa orang mati bagaimana menemukan jalan di alam arwah (mungkin akherat) dan apa yang harus dikatakan untuk menunjukkan bahwa jiwa itu patut mendapat pembebasan.

Di sebelah kiri rumah Hedes akan kau temukan mata air

Dan di dekatnya tegaklah pohon cemara putih

Jangan kau dekati mata air ini

Namun harus kau temukan mata air lain di dekat danau ingatan

Air sejuk memancar senantiasa dan ada para pengawal di mukanya

Katakanlah “aku putra bumi dan langit penuh bintang,

Namun aku sekarang berdiri sebagai bangsa bumi

Dan kau tahu siapa dirimu

Dan lihatlah, aku sengsara karena haus dan akan binasa

Cepatlah beri aku air dari tepi danau ingatan.”

Dan dengan sukarela mereka akan mengizinkanmu minum dari mata air suci

Dan sesudahnya kau akan berjaya di antara para pahlawan lainnya

Dan ada versi lain yang mengungkapkan:

Berjayalah engkau yang telah menanggung derita

Dari manusia biasa engkau telah menjadi dewata

Engkau bahagia dan diberkati

Engkau sudah menjadi dewa dan tak akan pernah binasa

Di Eleusis, sebuah daerah paling terbelakang di Athena dan mereka menganut kepercayaan Eleusinian. Dimana dari daerah terbelakang ini sistem negara-bangsa (Nation-state) menjadi sangat populer lalu melahirkan sistem demokrasi pertama kali dalam sejarah peradaban manusia. Dari Eleusis ini pulalah Athena menjadi “pilot Project” demokrasi yang diperkenalkan oleh Plato. Ada sebuah mitos yang mengatakan, jauh sebelum demokrasi dipopulerkan oleh Plato, orang-orang Eleusis kerap menyanyikan himne untuk Bacchus. Hal ini lagi-lagi diungkapkan oleh Euripides dalam karyanya Bacchae, juga ada koor kaum Maenad yang menampakkan keliaran. Kaum Maenad juga sambil menampilkan tarian mabuk-mabukkan yang dimaksudkan sebagai simbol pembebasan dari kecemasan dunia beradab menuju alam keindahan. Perilaku liar dalam memuja Bacchus ini adalah ungkapan perlawanan terhadap plutokrat yang selalu bersembunyi di balik kedok prudensi. Berikut syair kaum Maenad di Eleusis :

Dengan piala anggurmu terangkat keangkasa

Dengan pesta-poramu nan menggila

Ke lembah Eleusis semerbak bunga

Datanglah engkau wahai Bacchus Paean yang jaya

Wahai sukacita di atas pegunungan

Hingga lunglai dalam pertarungan yang dilangsungkan

Saat masih melekat kulit rusa suci

Sedang lainnya telah terbantai

Dalam riang memancar merah memabukkan

Darah domba gunung yang terkoyak-koyakkan

Kemenangan binatang buas mencakar menerkam

Di pucuk bukit tempat matahari tersangkutkan

Hingga pegunungan Lydia dan Phrygia

Bromios (nama lain Bacchus) memimpin jalan ke sana

Akankah dia datang padaku, selalu datang

Tari-tarian panjang, teramat panjang

Sejak gulita malam hingga bintang-bintang pucat menghilang?

Akankah terasa embun di tenggorokan dan desauan angin di rambutku?

Akankah kaki-kaki putih kita berkilauan di kolong langit, di keremangan?

Duhai kaki-kai rusa yang menyelinap ke hijau hutan

Lepaskanlah binatang buruan, lepaskanlah dia dari ketakutan

Terbebas dari perangkap dan ancaman mematikan

Namun masih ada suara nun jauh di sana

Gaung suara, rasa was-was, dan anjing pemburu tergesa-gesa

Wahai kerja yang mengasyikkan, tunggang-langgang berlarian

Menuju bengawan dan celah-celah pegunungan

Ini keriangan atau kecemasan, wahai kaki-kaki lincah beterjangan?

Ke padang-padang elok sunyi, jauh dari ancaman insan

Hingga tak terdengar suara di tengah rimbun hijau belantara

Makhluk-makhluk lemah hidup sembunyi di dalam rimba

Akan kuadukan pada Tuhan semua beban ini saat ku pulang nanti

Sebagian besar masyarakat yunani saat itu, sebelum lahirnya para filosof, adalah masyarakat yang penuh gejolak, tak bahagia, dan pemberontak. Karena hal inilah sejarah yunani adalah sejarah dialektika, tak pernah ada sistem masyarakat yang mapan sampai ditemukannya demokrasi. Tipikal masyarakat pemberontak dan tak pernah puas pulalah yang membuat masyarakat yunani dituntut berpikir realistis, rasional, dan penuh dengan argumen.

Namu yang terpenting dari kisah Bacchus ini adalah, perlawanan terhadap kemapanan semu, yang menutupi kebiadaban penguasa dan pemodal. Kisah Bacchus yang saya tampilkan memang tidak valid, terlebih kisah ini adalah mitos, tapi semangat perlawanan dalam kisah ini patut menjadi inspirasi bagi kaum pergerakan.

(Puisi diambil dari buku Sejarah Filsafat Barat karya Bertrand Russell)

*Ndan Musho
termikasih sudah membaca postingan kami semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda semua
Share This Article
Tidak ada komentar