PEKALONGAN, ReaksiNasional.com – Program kerja sama pengelolaan air antara Pemerintah Belanda dan Indonesia, Blue Deal, mengajak pelajar SD dan SMP di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, untuk aktif menjaga lingkungan sebagai langkah awal mencegah banjir dan rob.
Kegiatan edukasi tersebut digelar di ruang serba guna SMP Negeri 1 Kota Pekalongan pada Kamis (2/4/2026), dengan menghadirkan perwakilan Blue Deal dari Belanda, Marcel dan Britt, yang berbagi pengalaman terkait pengelolaan air berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Marcel menjelaskan bahwa Belanda menghadapi tantangan besar karena sebagian wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Untuk mengatasi potensi banjir, negara tersebut mengembangkan berbagai strategi seperti pembangunan tanggul, bendungan, serta penggunaan rumah pompa untuk mengendalikan aliran air.
“Sistem ini dirancang untuk menghadapi kenaikan permukaan laut dan potensi banjir di masa depan. Pengelolaan air harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menilai Kota Pekalongan memiliki tantangan serius, terutama penurunan muka tanah yang mencapai sekitar 10 hingga 15 sentimeter per tahun, serta persoalan sampah yang memperparah kondisi banjir. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis melalui identifikasi wilayah yang paling rentan terdampak.
Selain itu, Marcel menekankan pentingnya mencari sumber air alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah yang dapat mempercepat penurunan muka tanah. Pemanfaatan air sungai yang telah diolah dinilai menjadi solusi, dengan catatan kebersihan sungai tetap terjaga.
“Masyarakat harus berhenti membuang sampah ke sungai. Ini membutuhkan perubahan perilaku yang dimulai dari diri sendiri,” tegasnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, pembangunan infrastruktur seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL) juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas air sebelum dikembalikan ke sungai.
Sementara itu, Britt menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mendukung program pemerintah terkait pengelolaan air. Menurutnya, tindakan sederhana seperti mengelola sampah dengan baik dapat memberikan dampak besar dalam mencegah banjir.
“Tindakan paling sederhana adalah mengumpulkan sampah dan memastikan tidak dibuang sembarangan, karena sampah dapat menghambat aliran air dan memicu banjir,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Pekalongan Mualim menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat relevan mengingat wilayah Pekalongan rawan bencana banjir dan rob.
Ia berharap edukasi yang diberikan dapat diteruskan oleh para pelajar kepada lingkungan sekitarnya, sehingga terbentuk kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan sejak dini.
“Kami ingin menanamkan kepedulian kepada siswa agar mereka bisa menjadi agen perubahan di masyarakat,” tuturnya.
Mualim menambahkan, kondisi geografis Kota Pekalongan yang kerap dilanda banjir akibat rob maupun curah hujan tinggi menjadi tantangan tersendiri, bahkan dalam beberapa kondisi air hujan sulit mengalir ke laut akibat pasang air laut. Oleh karena itu, pihaknya mendorong penerapan kurikulum kebencanaan di jenjang pendidikan dasar sebagai bagian dari edukasi berkelanjutan.
Antusiasme pelajar terlihat selama kegiatan berlangsung, dengan keaktifan mereka dalam bertanya dan mengikuti sesi interaktif yang diberikan narasumber. Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran generasi muda untuk menjaga lingkungan dari hal sederhana demi mewujudkan Kota Pekalongan yang lebih bersih, sehat, dan tangguh terhadap bencana.


