SEMARANG, ReaksiNasional.com – Meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Kota Semarang menuai perhatian masyarakat. Warga mendorong pemerintah daerah untuk mengambil langkah konkret dalam mengendalikan penyebaran spesies invasif tersebut guna menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Salah satu tokoh muda pemerhati lingkungan, Rachman, menilai keberadaan ikan sapu-sapu yang semakin masif telah mengancam kelestarian ikan lokal. Ia menyebut ikan tersebut memiliki kebiasaan memakan telur ikan lain, sehingga berpotensi mengganggu keberlangsungan spesies endemik.
Menurutnya, dampak ikan sapu-sapu tidak hanya terbatas pada aspek biotik, tetapi juga merusak struktur fisik sungai. Perilaku ikan ini yang menggali lubang di dasar dan dinding sungai untuk berkembang biak dinilai dapat melemahkan pondasi serta meningkatkan risiko longsor maupun jebolnya tanggul.
Rachman mengungkapkan bahwa sebaran ikan sapu-sapu telah meluas di berbagai wilayah Kota Semarang, mulai dari kawasan Kota Lama seperti Jalan Merak, Kali Marabunta, dan Kali Krokosono di sekitar SMA Negeri 14 Semarang, hingga wilayah Kaligawe, Genuk, Tlogosari, Madukoro, dan Ronggowarsito. Selain itu, ikan tersebut juga ditemukan di waduk buatan kawasan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) serta Polder Tawang.
Ia mengaku kerap menangkap ikan sapu-sapu secara mandiri untuk dimusnahkan, namun jumlahnya yang sangat banyak membuat upaya tersebut belum memberikan dampak signifikan. Karena itu, ia berharap adanya keterlibatan pemerintah, dinas terkait, serta relawan lingkungan untuk menangani persoalan ini secara lebih terstruktur.
Ikan sapu-sapu sendiri dikenal sebagai spesies invasif yang berasal dari Sungai Amazon dan termasuk dalam kelompok ikan lele lapis baja (Loricariidae). Meski berfungsi sebagai pembersih alga di habitat aslinya, di lingkungan baru ikan ini menjadi ancaman karena tidak memiliki predator alami serta mampu berkembang biak dengan cepat.
Selain merusak ekosistem, kebiasaan ikan ini menggali tepian sungai juga meningkatkan potensi erosi dan kerusakan lingkungan. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan penanganan serius agar tidak semakin meluas.
Rachman juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam menjaga kebersihan sungai. Ia mengisahkan pengalamannya sebelum pandemi COVID-19, saat berhasil membersihkan aliran sungai di kawasan Semarang Utara secara mandiri, mulai dari mengangkut sampah, memasang sistem penyaring, hingga memperindah lingkungan sekitar.
Upaya tersebut sempat memberikan hasil positif dengan kondisi sungai yang lebih bersih dan meningkatnya kesadaran masyarakat. Namun, keterbatasan biaya dan dukungan membuat program tersebut tidak berlanjut.
Dengan kondisi sungai yang kembali tercemar dan populasi ikan sapu-sapu yang terus meningkat, ia berharap pemerintah daerah dapat menghadirkan solusi berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan daerah lain dalam menangani persoalan serupa dapat menjadi referensi untuk diterapkan di Kota Semarang.


