Polkesmar Edukasi Santri Cegah Penyakit Ginjal Lewat Gerakan SPG

5 Min Read
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang memberikan edukasi pencegahan penyakit ginjal melalui Gerakan Santri Peduli Ginjal di Pondok Pesantren Al-Badriyah 2, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat (19/6/2026).

, ReaksiNasional.com – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) Poltekkes Kemenkes Semarang menggelar edukasi pencegahan penyakit ginjal kronis bagi santri Pondok Pesantren Al-Badriyah 2, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jumat (19/6/2026). Kegiatan bertema “Pencegahan Penyakit Ginjal melalui Pemeriksaan Kesehatan dan Edukasi Gerakan SPG atau Santri Peduli Ginjal” itu dilakukan untuk menanamkan kesadaran hidup sehat sejak usia remaja.

Pencegahan penyakit ginjal kronis pada remaja dinilai penting karena masa sekolah, khususnya tingkat SMP atau MTs, merupakan periode strategis untuk membentuk kebiasaan hidup sehat. Kebiasaan tersebut antara lain mencukupi kebutuhan air putih, mengurangi konsumsi minuman manis, membatasi makanan tinggi garam, tidak menahan buang air kecil, serta rutin melakukan aktivitas fisik.

Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Tim Pengabmas Nanang Qosim, dengan anggota tim Salikun dan Fikril Mustofa, serta melibatkan mahasiswa kesehatan. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman santri mengenai pentingnya menjaga kesehatan ginjal melalui pemeriksaan kesehatan, deteksi dini, dan penerapan pola hidup sehat.

“Melalui Gerakan SPG atau Santri Peduli Ginjal, kami ingin menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini agar santri memahami pentingnya menjaga kesehatan ginjal melalui langkah-langkah sederhana,” ujar Nanang.

Nanang menegaskan, menjaga kesehatan merupakan bagian dari ajaran Islam dan bentuk tanggung jawab manusia dalam merawat amanah yang diberikan Allah SWT. Menurutnya, upaya menjaga kesehatan, termasuk mencegah penyakit ginjal, sejalan dengan kaidah fikih ad-dhararu yuzal atau kemudaratan harus dihilangkan.

“Menjaga kesehatan ginjal berarti menjaga kehidupan, menjaga kemampuan beribadah, menjaga masa depan, dan menjaga amanah yang telah Allah titipkan kepada kita,” katanya.

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan tersebut meliputi pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi badan, lingkar badan, serta pemeriksaan gula darah. Para santri juga mengikuti pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan awal terkait pencegahan penyakit ginjal.

Setelah pemeriksaan kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi edukasi yang dipandu Salikun, M.Kes. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa ginjal merupakan organ vital yang berfungsi menyaring darah, membuang zat sisa metabolisme melalui urine, menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur tekanan darah, serta membantu menjaga kesehatan tulang.

Salikun menjelaskan, penyakit ginjal kronis berkembang secara perlahan dan kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Karena itu, para santri diminta mewaspadai sejumlah tanda, seperti mudah lelah, bengkak pada kaki atau wajah, mual, sakit kepala, adanya darah dalam urine, serta perubahan frekuensi buang air kecil.

Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah kebiasaan dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal. Kebiasaan tersebut antara lain kurang minum air putih, terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam dan minuman manis, kurang berolahraga, begadang, serta menahan buang air kecil.

Sebagai langkah pencegahan, Salikun mengenalkan gerakan CERDIK, yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dan seimbang, istirahat yang cukup, serta kelola stres. Gerakan ini diharapkan dapat menjadi pedoman sederhana bagi santri dalam menjaga kesehatan ginjal dan tubuh secara umum.

Tim Pengabmas juga membagikan leaflet pencegahan penyakit ginjal kronis kepada seluruh santri sebagai media edukasi berkelanjutan. Leaflet tersebut memuat informasi mengenai fungsi ginjal, faktor risiko, tanda dan gejala penyakit ginjal kronis, serta langkah pencegahan melalui perilaku CERDIK.

Sebagai bentuk komitmen bersama, para santri mendeklarasikan Gerakan SPG dengan mengucapkan ikrar menjaga kesehatan ginjal. Mereka berkomitmen untuk mengonsumsi air putih yang cukup, mengurangi minuman manis, menerapkan pola hidup sehat, serta mengajak teman-teman agar lebih peduli terhadap kesehatan ginjal.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Badriyah 2 Rayungkusuman Mranggen Demak, Ahmad Dliya’uddin Zabidi, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi kesehatan penting diberikan kepada santri sebagai bekal dalam menerapkan gaya hidup sehat di lingkungan pesantren.

Melalui kegiatan ini, Tim Pengabmas berharap Gerakan SPG dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya hidup sehat dan meningkatkan kepedulian santri terhadap pencegahan penyakit ginjal di lingkungan pesantren.

“Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Kami berharap para santri dapat menjadi agen perubahan dan menyebarluaskan pesan hidup sehat kepada keluarga maupun masyarakat sekitar,” tutup Nanang.

Share This Article