PMI Kota Semarang Bentuk PMR di SLB BC Swadaya, Tanamkan Jiwa Kemanusiaan bagi Siswa Disabilitas

4 Min Read
PMI Kota Semarang bersama guru dan siswa SLB BC Swadaya Semarang saat peresmian ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di Jalan Seteran Utara II, Semarang, Jumat (8/5/2026).

, ReaksiNasional.com – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang terus memperkuat pendidikan kemanusiaan dengan membentuk ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) di SLB BC Swadaya Semarang, Jalan Seteran Utara II Nomor 2, Jumat (8/5/2026). Program tersebut menjadi upaya menanamkan jiwa sosial, kepedulian, dan kemandirian bagi siswa berkebutuhan khusus.

Kegiatan itu digelar bertepatan dengan peringatan Hari Palang Merah Internasional 2026 dan menjadi bentuk komitmen PMI agar pendidikan kemanusiaan dapat menjangkau seluruh kalangan, termasuk anak-anak penyandang disabilitas.

Kepala Bidang Organisasi PMI Kota Semarang, Endang Puji Hastuti mengatakan pembentukan PMR di lingkungan sekolah luar biasa menjadi langkah penting karena siswa berkebutuhan khusus juga memerlukan pemahaman dasar mengenai pertolongan pertama dan kepedulian sosial.

Menurutnya, antusiasme siswa selama mengikuti pelatihan menunjukkan bahwa PMR sangat dibutuhkan di lingkungan SLB.

“Anak-anak sangat semangat mengikuti pelatihan. Ini menunjukkan bahwa PMR tidak hanya penting bagi sekolah umum, tetapi juga sangat dibutuhkan di SLB. Dengan dukungan guru dan kesabaran para pelatih, semua proses berjalan lancar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, materi yang diberikan PMI sama seperti di sekolah umum, mulai dari pertolongan pertama, penanganan kondisi darurat ringan, hingga pembentukan karakter sosial. Namun, proses penyampaian dilakukan lebih perlahan agar siswa dapat memahami materi dengan baik.

“Kalau di sekolah umum satu materi bisa selesai dalam satu jam pelajaran, di sini bisa membutuhkan waktu satu sampai dua hari. Yang paling penting mereka memahami dasar-dasarnya, terutama bagaimana menjaga diri sendiri saat terjadi sesuatu,” jelasnya.

PMI Kota Semarang juga berencana memperluas program serupa ke sejumlah SLB lain, termasuk SLB Negeri di Ketileng. Sebelumnya, PMI telah mendampingi beberapa sekolah luar biasa selama beberapa tahun hingga akhirnya siap memiliki unit PMR secara resmi.

Kepala Sekolah SLB BC Swadaya Semarang, Riska Fitriyani Rahmansyah mengaku bangga karena sekolahnya menjadi salah satu SLB swasta pertama di Kota Semarang yang memiliki ekstrakurikuler PMR.

Menurutnya, keberadaan PMR menjadi langkah besar dalam membangun rasa percaya diri, jiwa sosial, serta semangat gotong royong bagi siswa berkebutuhan khusus.

“Ini menjadi hari yang sangat bersejarah bagi kami. Anak-anak kami memiliki kebutuhan khusus, sehingga pembinaan harus berjalan secara perlahan. Kehadiran PMR ini sangat bermanfaat untuk membentuk rasa kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama,” katanya.

Saat ini, SLB BC Swadaya Semarang memiliki 139 siswa dengan hambatan pendengaran dan hambatan intelektual. Pihak sekolah berharap PMR dapat menjadi wadah pembelajaran yang setara dengan sekolah umum sekaligus menjadi kebanggaan bagi siswa, guru, dan orang tua.

Sementara itu, Kepala Markas PMI Kota Semarang, dr. Anna Kartika Yuli Astuti mengatakan program tersebut sejalan dengan tema Hari Palang Merah Internasional 2026, yakni Humanity for Elderly and People with Disabilities.

Menurutnya, tema tersebut relevan dengan upaya PMI dalam menghadirkan pendidikan kemanusiaan yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

“Tema tahun ini sangat sesuai dengan kegiatan kami. Kami ingin memastikan bahwa nilai kemanusiaan dapat dirasakan oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Program ini akan terus berlanjut di SLB lainnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, PMI akan menyesuaikan kurikulum PMR dengan kondisi siswa dan arahan sekolah agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif, nyaman, dan berkelanjutan.

Share This Article