Pertama di Indonesia, Mahasiswa UIN Walisongo KKN di Makkah dan Madinah

4 Min Read
Mahasiswa dan mahasiswi Jurusan Manajemen Haji dan Umrah Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang berfoto bersama saat mengikuti KKN Internasional di Makkah dan Madinah.

SEMARANG, ReaksiNasional.com – Jurusan Manajemen Haji dan Umrah (MHU) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang menorehkan sejarah dengan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Makkah dan Madinah atau Haramain. Program tersebut diklaim sebagai KKN internasional pertama di Indonesia yang dilaksanakan di dua kota suci tersebut oleh perguruan tinggi Islam.

Kepala Jurusan MHU FDK UIN Walisongo Semarang, Dr. H. Abdul Rozaq, M.Si., mengatakan program studi MHU berfokus pada pengelolaan, penyelenggaraan, dan bimbingan ibadah haji serta umrah. Ruang lingkup pembelajarannya mencakup aspek administratif, operasional, manajerial, hingga aspek keagamaan dan spiritual.

“KKN di Haramain ini insyaallah yang pertama kali di Indonesia untuk perguruan tinggi Islam negeri dan swasta,” kata Rozaq saat ditemui, Kamis (11/6/2026).

Menurut Rozaq, program KKN internasional di luar negeri memang telah dilakukan sejumlah perguruan tinggi, seperti di Malaysia, Jepang, maupun negara lain. Namun, ia menilai tantangan terbesar dari program semacam itu adalah konsistensi pelaksanaan. Untuk KKN di Haramain, pihaknya menargetkan kegiatan tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan setiap tahun.

“Untuk program ini insyaallah konsisten tiap tahun, apalagi saat ini kita, MHU juga sudah punya biro sendiri. Jadi insyaallah terus berlanjut,” ujarnya.

Rozaq menjelaskan, kegiatan mahasiswa selama KKN Internasional di Haramain mencakup berbagai aktivitas pengabdian dan pendampingan. Di antaranya kampanye kebersihan di Jabal Khondamah, pengenalan permainan tradisional Indonesia di sekolah-sekolah lokal, peringatan HUT RI di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), serta pendampingan jamaah umrah dari berbagai Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).

Pada 2025, sebanyak 22 mahasiswa yang terdiri atas 14 laki-laki dan 8 perempuan telah mengikuti KKN Internasional di Haramain selama 36 hari. Sementara pada 2026, jumlah peserta meningkat menjadi 28 mahasiswa yang telah terdaftar dalam program tersebut.

Rozaq yang juga Rais Majlis Ilmi di Pimpinan Cabang Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kota Semarang menegaskan, para orang tua tidak perlu khawatir terkait kendala bahasa maupun pendampingan selama mahasiswa berada di Makkah dan Madinah. Menurutnya, peserta mendapatkan pembekalan sebelum keberangkatan dan didampingi oleh tenaga profesional selama berada di Tanah Suci.

“Selain ada pembekalan di kampus, nanti selama di Tanah Suci, ada dua dosen pembimbing lapangan dan saudara kita dari Indonesia yang menjadi santri dan mahasiswa. Mereka kan sudah mukim beberapa tahun dan berpengalaman sebagai muthawif atau pembimbing umrah,” ujar kiai muda jebolan Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta itu.

Rozaq menambahkan, MHU FDK UIN Walisongo Semarang tidak hanya menawarkan pengetahuan akademik kepada mahasiswa, tetapi juga pengalaman nyata di lapangan. Dengan demikian, lulusan diharapkan siap menjadi tenaga profesional di bidang manajemen haji dan umrah.

“Kita punya biro perjalanan sendiri dan tempat manasik sendiri, mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas ini dengan baik,” tuturnya.

Menurut Rozaq, mahasiswa dapat terlibat aktif dalam kegiatan manajemen biro perjalanan umrah, termasuk pada aspek penjualan atau pemasaran. Pengalaman tersebut dinilai penting agar mahasiswa memahami praktik industri haji dan umrah secara langsung, bukan hanya dari sisi teori.

“Kalau mau praktik marketing di biro yang di kampus ini atau yang ada di luar juga kita persilakan, dan kita berikan apresiasi dengan nilai lebih jika bisa menjual sebuah produk umrah maupun haji,” urainya.

Ia menilai, inisiatif magang di biro perjalanan umrah dapat memberikan pengalaman lebih luas dan mempercepat karier mahasiswa setelah lulus. Dengan bekal tersebut, lulusan MHU diharapkan mampu bekerja di biro haji dan umrah, menjadi pendamping jamaah, atau bahkan mendirikan usaha sendiri di bidang tersebut.

“Saat lulus sudah punya pengalaman yang nyata, bisa lanjut di biro haji dan umrah, atau bahkan mendirikan sendiri, jika mampu,” ucapnya.

Share This Article