Perkuat Tradisi Pesantren, Nawal Yasin Ajak Santri Jadi Motor Literasi

3 Min Read
Bunda Literasi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin saat menjadi narasumber Orientasi Santri Ma'had Al-Jami'ah UIN Walisongo di Semarang, Selasa (7/4/2026), mengajak santri menghidupkan kembali tradisi literasi pesantren.

SEMARANG, ReaksiNasional.com – Bunda Literasi Provinsi Nawal Arafah Yasin mengajak para santri untuk mengambil peran aktif sebagai penggerak literasi guna memperkuat kembali tradisi keilmuan di lingkungan pesantren. Ajakan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam Orientasi Santri Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo di Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Selasa (7/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Nawal yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Rembang menegaskan bahwa tradisi literasi di pesantren sejatinya telah mengakar kuat sejak lama. Ia mencontohkan sejumlah ulama besar yang produktif menulis kitab, seperti Syekh Abdur Rouf As-Singkili dan KH Maimoen Zubair, sebagai bukti bahwa pesantren memiliki warisan intelektual yang tinggi.

Namun demikian, ia menilai tradisi menulis di kalangan santri saat ini mulai mengalami penurunan. Oleh karena itu, ia mendorong para santri untuk kembali menghidupkan budaya literasi dengan menjadi penulis dan menghasilkan karya-karya keilmuan.

Menurut Nawal, pesantren dan literasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Ia menjelaskan bahwa proses pembelajaran di pesantren pada hakikatnya adalah praktik literasi yang utuh, mulai dari membaca, memahami, mengajarkan, mendiskusikan, hingga menulis, menerjemahkan, dan mempublikasikan kitab kuning.

Meski demikian, ia mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan literasi di pesantren, di antaranya tingginya harga kitab, keterbatasan fasilitas perpustakaan, belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital, serta menurunnya tradisi menulis dan penerjemahan kitab.

Sebagai langkah penguatan, Nawal mendorong pengembangan perpustakaan pesantren, digitalisasi kitab kuning, pembudayaan tradisi menulis, serta penguatan forum diskusi kitab. Ia juga berharap adanya dukungan pemerintah melalui hibah kitab dan fasilitasi pameran untuk memperluas akses literasi di lingkungan pesantren.

Kepada mahasiswa UIN Walisongo, ia menekankan bahwa tradisi kepenulisan yang berkembang di pesantren juga relevan diterapkan di perguruan tinggi. Ia mendorong mahasiswa untuk aktif menulis, baik dalam bentuk jurnal ilmiah maupun buku.

Dalam kesempatan tersebut, Nawal turut mengapresiasi program-program Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo yang dinilai mampu membentuk karakter mahasiswa, seperti pembelajaran bahasa asing, kajian kitab kuning, serta pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keislaman.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen terus berupaya mengembangkan pendidikan pesantren melalui berbagai program, salah satunya Pesantren Obah.

Pada kegiatan itu, Nawal juga membagikan bukunya berjudul “Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual” kepada mahasiswa. Ia berharap pesantren dapat menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta bebas dari perundungan dan kekerasan.

Share This Article