Pemprov Jateng Bebaskan PKB dan BBNKB Kendaraan Listrik Berbasis Baterai

4 Min Read
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menghadiri Grand Opening Dealer Resmi BYD Haka Auto Cabang Semarang di Jalan Kompol Maksum, Peterongan, Semarang Selatan, Rabu (17/6/2026), sekaligus menegaskan insentif pembebasan PKB dan BBNKB kendaraan listrik berbasis baterai.

, ReaksiNasional.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menerapkan kebijakan yang berpihak pada kendaraan ramah lingkungan dengan membebaskan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) untuk kendaraan listrik berbasis baterai.

Hal itu ditegaskan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno usai menghadiri Grand Opening Dealer Resmi BYD Haka Auto Cabang Semarang, Solo, Magelang, dan Klaten di Dealer BYD Haka Auto Cabang Semarang, Jalan Kompol Maksum Nomor 260, Peterongan, Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (17/6/2026).

“Kalau insentif dari kita kan PKB, BBNKB ya. Kalau kita kan masih menerapkan bebas dari BBNKB dan PKB,” kata Sumarno.

Kebijakan tersebut sejalan dengan Keputusan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi Nomor 100.3.3.1/161 Tahun 2026 tentang Pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, yang ditetapkan pada 29 Mei 2026.

Dalam sambutannya mewakili Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, Sumarno menyampaikan apresiasi atas pembukaan empat cabang Dealer BYD Haka Auto di Jawa Tengah. Menurutnya, kendaraan listrik memiliki banyak nilai positif, terutama terkait pengembangan energi berkelanjutan.

Sumarno menilai penggunaan kendaraan listrik semakin relevan di tengah tantangan harga bahan bakar yang dipengaruhi nilai tukar dolar. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi yang melimpah, mulai dari tenaga surya, angin, hingga panas bumi.

“Di Indonesia luas, kita bisa pakai tenaga surya, tenaga angin dan juga panas bumi. Potensinya banyak sekali,” ujarnya.

Ia mengatakan, konsep kendaraan listrik tidak dapat dilepaskan dari upaya menjaga lingkungan. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan kendaraan listrik juga dinilai lebih efisien dari sisi biaya operasional.

“Sudah hampir tiga tahun saya pakai kendaraan listrik untuk mobil pelat merah saya. Kemarin saya ke Surabaya sampai Sidoarjo. Sidoarjo saya ngecas, habisnya Rp178.000. Lebih mahal bayar tolnya Rp480.000,” jelasnya.

Sumarno juga berpesan kepada BYD Haka Auto agar memberikan kenyamanan kepada pelanggan, termasuk menjaga layanan purnajual. Ia berharap kehadiran dealer kendaraan listrik tersebut menjadi bagian dari transformasi Jawa Tengah menuju energi hijau.

“Mudah-mudahan ini menjadi bagian untuk kita bertransformasi Jawa Tengah menuju green energy,” pungkasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao mengatakan, Jawa Tengah merupakan provinsi yang menjadi koridor ekonomi di Pulau Jawa. Menurutnya, Jateng memiliki peran penting dalam pembangunan masa depan Indonesia, termasuk dalam mendorong adopsi kendaraan listrik.

“Kami percaya bahwa provinsi ini juga dapat menjadi penggerak penting adopsi kendaraan listrik atau EV di tahun-tahun mendatang,” katanya.

Eagle Zhao menyebut, untuk mempertahankan momentum tersebut diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, perusahaan infrastruktur, dan masyarakat setempat. BYD, kata dia, mendukung transformasi melalui teknologi, investasi, dan kolaborasi guna membangun ekosistem kendaraan energi baru yang lebih kuat, bersih, dan berkelanjutan.

“Kami bangga dapat melayani lebih banyak pelanggan dan mendukung Jawa Tengah untuk mewujudkan masa depan mobilitas yang lebih berkelanjutan dan inovatif,” ujarnya.

CEO BYD Haka Auto atau PT Bumi Hijau Motor, Hariadi Kaimuddin, menambahkan bahwa Haka berkomitmen mengembangkan kendaraan listrik karena dinilai semakin terjangkau dan ekonomis dalam penggunaan. Selain itu, kendaraan listrik juga dapat membantu negara mengurangi subsidi bahan bakar minyak.

“Kita tahu dengan kondisi sekarang yang sangat challenging, harga BBM tidak menentu dan kita masih impor dari luar. Sementara kalau kita pakai EV, sumber energi kita itu banyak sekali berlimpah ada di Indonesia. Sumber renewable energy kita itu sangat banyak. Batu bara pun juga sama yang banyak. Jadi kita enggak perlu impor lagi,” katanya.

Share This Article