SALATIGA – Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga melalui Dinas Pendidikan mulai mempersiapkan wacana penerapan kembali sistem sekolah enam hari untuk jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kebijakan ini diproyeksikan mulai berlaku pada tahun 2026.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga, Muh Nasiruddin, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan pimpinan daerah terkait rencana tersebut. Menurutnya, Wali Kota Salatiga secara prinsip telah menyetujui kebijakan pengembalian sekolah enam hari, meski regulasi resminya belum ditandatangani.
“Kami sudah berhubungan dengan pemerintah kota. Pak Wali Kota juga sudah menyetujui enam hari sekolah, tapi memang belum ditandatangani,” ujar Nasiruddin kepada wartawan, Rabu (31/12/2025).
Sebagai langkah antisipasi, Nasiruddin telah menginstruksikan seluruh satuan pendidikan (Satpen) untuk menyusun simulasi penjadwalan ganda. Sekolah diminta mempersiapkan jadwal untuk skema lima hari sekolah (yang saat ini berjalan) dan skema enam hari sekolah.
“Saya sampaikan ke sekolah untuk persiapkan jadwal. Jadi kalau kita masih berjalan lima hari sekolah, bisa lanjut. Namun jika keputusan enam hari sekolah turun, sekolah sudah siap tinggal menjalankan,” jelasnya.
Terkait waktu pelaksanaan, Nasiruddin menyebutkan dua opsi kemungkinan. Penerapan sekolah enam hari bisa dimulai pada awal semester genap bulan Januari 2026, atau pada awal tahun ajaran baru 2026/2027 di bulan Juli mendatang.
“Pilihannya ada dua, antara Januari atau nanti di Juli. Harapannya nanti bisa dilihat kesiapannya,” urainya.
Nasiruddin menjelaskan, kebijakan sekolah lima hari yang selama ini berjalan bersifat uji coba. Evaluasi Dinas Pendidikan menilai perlunya pengembalian ke sistem enam hari agar beban jam pelajaran harian siswa berkurang.
Dengan sistem enam hari, siswa diharapkan dapat pulang lebih awal setiap harinya. Hal ini dinilai lebih efektif untuk menyesuaikan kemampuan anak dalam menerima pelajaran serta memaksimalkan waktu pendidikan karakter di lingkungan keluarga.
“Kita harus menyesuaikan kemampuan anak menerima pelajaran. Jika pulang lebih awal, diharapkan bisa memaksimalkan pendidikan karakter di rumah,” pungkasnya.

