Pawai Ta’aruf Pesantren Sunan Giri Salatiga Gaungkan Budaya Nusantara dan Kepedulian Lingkungan

4 Min Read
Para santri Pondok Pesantren Sunan Giri Salatiga mengenakan beragam kostum budaya Nusantara saat mengikuti Pawai Ta’aruf Akhirus Sanah di Desa Krasak Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Ahad (18/1/2026).

, ReaksiNasional.com – Pondok yang berlokasi di Desa Krasak Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, menggelar Pawai Ta’aruf dalam rangka akhirus sanah atau akhir tahun pembelajaran, Ahad (18/1/2026). Pawai tahun ini mengangkat tema budaya Nusantara sebagai upaya menyiarkan nilai kebudayaan bangsa sekaligus memperkuat pesan toleransi dan kepedulian lingkungan.

Sejak pagi hari, rombongan santri tampil berurutan mengenakan beragam kostum yang merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia. Salah satu rombongan tampil menyerupai pasukan pengibar bendera pusaka dengan iringan santri pembawa bendera Merah Putih. Rombongan lain mengenakan busana adat Jawa lengkap dengan gunungan, seolah menggambarkan prosesi adat panen, serta kostum barongan dan berbagai busana tradisional lainnya.

Meski matahari pagi terasa terik, antusiasme santri dan warga yang menyaksikan pawai tetap tinggi. Hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat setelah beberapa hari sebelumnya wilayah Salatiga diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi. Setiap rombongan juga diiringi alat musik tradisional yang berbeda, sehingga suasana pawai terasa kental dengan nuansa upacara adat.

Ketua Panitia, Muhammad Khoirul Umam, menjelaskan bahwa tema Merawat Keberagaman Budaya di sengaja diangkat sebagai respons atas derasnya arus globalisasi. Menurutnya, generasi muda saat ini cenderung lebih akrab dengan budaya luar yang populer melalui gawai dan musik modern, sementara budaya bangsa sendiri mulai terpinggirkan.

Ia menegaskan bahwa santri memiliki tanggung jawab moral untuk memperkenalkan, menjaga, dan merawat kebudayaan Nusantara. Pesantren, lanjutnya, memegang peran strategis sebagai ruang penyaring budaya luar sekaligus penjaga nilai-nilai adiluhung warisan leluhur, dengan cara menyaring dan menghidupkan kembali budaya agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Umam juga menyinggung karakter Kota Salatiga yang dikenal sebagai Kota Toleransi dan miniatur Indonesia. Dengan luas wilayah sekitar 54,98 kilometer persegi, Salatiga menjadi ruang perjumpaan berbagai agama, suku, dan budaya, sehingga tema keberagaman dinilai sangat kontekstual untuk disuarakan melalui kegiatan pawai.

Selain menampilkan kekayaan budaya, pawai ta’aruf kali ini juga dimanfaatkan sebagai kampanye ramah lingkungan. Pesantren Sunan Giri yang diasuh oleh KH Maslihuddin Yazid turut menampilkan atraksi drumblek, yakni musik perkusi yang memanfaatkan barang-barang bekas. Atraksi tersebut menarik perhatian warga sekaligus menyampaikan pesan bahwa sampah dapat dikelola menjadi sesuatu yang bernilai.

Melalui drumblek, para santri ingin menunjukkan bahwa keterbatasan alat tidak membatasi kreativitas. Di tengah kesibukan menuntut ilmu agama, santri tetap mampu berkarya dan berinovasi dengan memanfaatkan barang sederhana menjadi media seni dan dakwah.

Pawai ta’aruf tersebut juga menjadi penegasan bahwa santri tidak hanya berkutat pada kajian keilmuan agama dan gramatika bahasa Arab, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman. Seni dan budaya dipandang sebagai bagian dari dakwah, media penyampai pesan kebaikan yang lembut dan membumi, sekaligus mempertemukan nilai spiritualitas dan kebudayaan.

Muhammad Khoirul Umam berharap, Pawai Ta’aruf Akhirus Sanah ini mampu mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap budaya Indonesia, budaya Nusantara, serta lingkungan yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa di Pesantren Sunan Giri, nilai agama dan seni berjalan beriringan demi menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. (*)

Share This Article