MADINAH, ReaksiNasional.com – Kisah inspiratif datang dari Muhammad Rinaldo, seorang barista muda yang mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji 1447 H/2026 M. Perjalanan spiritual Rinaldo menjadi pengingat bahwa panggilan ke Tanah Suci dapat datang kepada siapa saja, termasuk mereka yang menjalani keseharian dengan kerja keras, kesederhanaan, dan ketulusan hati.
Perjalanan Rinaldo menuju Baitullah dimulai saat ia mengikuti kegiatan manasik haji pada 2–3 Mei 2026. Dalam kegiatan tersebut, ia mempelajari berbagai tahapan ibadah haji, mulai dari mengenakan kain ihram, memahami tata cara thawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, hingga seluruh rangkaian ibadah yang harus dijalani jemaah.
Semangat belajar dan rasa ingin tahu Rinaldo mendapat perhatian dari pembimbing ibadah. Pada akhir kegiatan manasik, sang ustaz memberikan hadiah berupa Al-Qur’an sebagai bentuk apresiasi atas antusiasmenya sejak hari pertama.
“Untuk Pak Rinaldo, karena begitu semangat dan antusias sejak hari pertama,” ujar pembimbing sambil menyerahkan Al-Qur’an.
Rinaldo menerima hadiah tersebut dengan haru. Baginya, Al-Qur’an itu bukan sekadar pemberian, tetapi menjadi teman perjalanan dan penguat hati dalam menapaki perjalanan spiritual menuju Tanah Suci.
Hari keberangkatan yang dinantikan akhirnya tiba. Pada 20 Mei 2026 pukul 00.30 WIB, Rinaldo berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta bersama rombongan jemaah haji. Doa, lantunan talbiyah, dan lambaian keluarga mengiringi langkahnya memasuki pesawat Emirates Airlines.
Perjalanan udara yang panjang menjadi ujian tersendiri bagi Rinaldo. Dengan postur tubuh tinggi, ruang kursi pesawat terasa terbatas sehingga ia kesulitan beristirahat. Namun, rasa lelah itu ia hadapi dengan sabar. Di tengah perjalanan, ia membuka Al-Qur’an pemberian pembimbingnya dan membaca ayat demi ayat untuk menenangkan hati.
Setelah menempuh penerbangan sekitar delapan jam, perjalanan memasuki fase berikutnya. Saat transit di Doha, Rinaldo bersiap mengambil miqat. Ia mengganti pakaian sehari-hari dengan dua lembar kain ihram putih tanpa jahitan sebagai simbol kesetaraan seluruh manusia di hadapan Allah SWT.
Dengan hati bergetar, Rinaldo melafalkan talbiyah, “Labbaik Allahumma labbaik.” Kalimat itu menjadi penanda kesiapannya memenuhi panggilan Allah untuk menyempurnakan rukun Islam kelima.
Dari Doha, perjalanan dilanjutkan menuju Jeddah. Penerbangan sekitar dua jam terasa berbeda karena hati dan pikirannya telah tertuju kepada Baitullah. Rasa lelah berganti syukur karena ia diberi kesempatan untuk berada di antara jutaan jemaah yang datang memenuhi panggilan Allah.
Selama di Tanah Suci, Muhammad Rinaldo mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji, baik rukun, wajib, maupun sunah haji. Ia melaksanakan umrah dalam rangka haji tamattu’, perjalanan menuju Mina, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, hingga menyempurnakan thawaf ifadhah dan sa’i.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Rinaldo adalah ketika mendapat kesempatan menjadi muazin di Makkah. Suara azan yang biasanya ia dengar sebagai panggilan ibadah, saat itu diizinkan Allah keluar dari lisannya sendiri di Tanah Suci.
Dalam perjalanan haji tersebut, Rinaldo mendapatkan bimbingan langsung dari pembimbing ibadah haji, Ustaz Hasan Gaido, serta pimpinan rombongan, Ustaz Acung Wahyu. Keduanya mendampingi jemaah agar dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Kisah Muhammad Rinaldo menjadi inspirasi bahwa profesi apa pun bukan penghalang untuk memenuhi panggilan Allah. Seorang barista muda dengan kerja keras, doa, dan keyakinan dapat berdiri di antara jutaan manusia untuk mengucapkan talbiyah yang sama.
Semoga Muhammad Rinaldo dan seluruh jemaah memperoleh haji mabrur. Dari perjalanan ini, haji mabrur diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual pribadi, tetapi terus terhubung dengan kebaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat.


