DEMAK, ReaksiNasional.com – Di tengah ancaman abrasi yang terus menggerus wilayah pesisir Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, seorang perempuan bernama Pasijah atau Mak Jah tetap bertahan menjaga tanah kelahirannya sekaligus merawat ekosistem mangrove yang tersisa.
Perempuan berusia 56 tahun itu tinggal seorang diri di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, kawasan yang kini sebagian besar telah tenggelam akibat banjir rob yang terjadi sejak awal 2000-an. Dahulu, wilayah tersebut merupakan desa subur dengan hamparan sawah dan tanaman palawija. Namun, kondisi berubah drastis setelah air laut mulai menggenangi daratan secara berkala.
“Dulu desa ini awalnya petani, ada sawah, palawija, semuanya ada. Tapi sejak tahun 2000 mulai sering kena rob. Lama-lama airnya makin naik,” tutur Mak Jah, Jumat (24/4/2026).
Memasuki sekitar tahun 2010, kondisi semakin memburuk. Ratusan kepala keluarga yang sebelumnya bermukim di kawasan itu memilih pindah karena rumah dan lahan mereka terendam. Kini, Mak Jah menjadi satu-satunya warga yang masih bertahan.
Di tengah situasi tersebut, Mak Jah memilih tidak meninggalkan kampung halamannya. Ia justru berinisiatif menanam mangrove secara mandiri dengan bibit yang dikumpulkan sendiri. Upaya itu perlahan membuahkan hasil, dengan tumbuhnya vegetasi mangrove yang kini berfungsi menahan abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut.
“Saya tanam sedikit demi sedikit. Karena kurang bibit, saya buat sendiri. Alhamdulillah berkembang. Ada juga yang kirim dari jauh,” ujarnya.
Berkat kegigihannya, Mak Jah dikenal sebagai “benteng terakhir” penjaga mangrove di Sayung dan dijuluki sebagai “Kartini Laut Sayung”. Meski hidup di tengah keterbatasan, ia tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan menempuh perjalanan menggunakan perahu menuju daratan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Kalau ombak besar ya sulit. Kadang tidak bisa tidur. Tapi saya sudah terbiasa, yang penting sehat dan bisa bekerja,” katanya.
Di tengah kondisi rumah yang terus terancam rob, perhatian datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Melalui inisiatif Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Mak Jah mendapatkan bantuan rumah apung sebagai solusi adaptasi terhadap kondisi pesisir yang semakin terdampak.
“Alhamdulillah langsung diberikan. Senang sekali, kalau rob besar bisa dipakai untuk tinggal. Saya akan tetap merawat mangrove ke depan,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menjelaskan bahwa rumah apung merupakan salah satu solusi adaptif untuk wilayah pesisir seperti Desa Bedono dan Timbulsloko yang terus mengalami rob.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Demak, dan Bank Jateng. Hingga akhir 2025, tercatat 15 unit rumah apung telah dibangun, dengan target penambahan menjadi 20 unit pada tahun 2026, mayoritas di Desa Timbulsloko dan sebagian di Desa Bedono.
Di tengah ancaman abrasi yang belum mereda, perjuangan Mak Jah menjadi simbol keteguhan dalam menjaga lingkungan sekaligus harapan bagi keberlangsungan ekosistem pesisir di wilayah Demak.


