Kemenperin Dorong Hilirisasi IKM Buah Tropis Hadapi Impor Buah Subtropis

6 Min Read

JAKARTA, ReaksiNasional.com – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat program hilirisasi industri dengan melibatkan industri kecil dan menengah (IKM), khususnya sektor pangan berbasis buah tropis khas Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal di tengah dominasi impor buah subtropis di pasar domestik.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia memiliki kekayaan buah tropis yang sangat besar dan berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk olahan modern dengan daya saing tinggi di pasar global.

“Indonesia memiliki banyak sekali jenis buah khas negara tropis yang punya nilai jual tinggi di pasar dalam dan luar negeri. Ini saatnya lebih banyak pelaku industri, khususnya IKM di berbagai sentra penghasil buah, untuk mengambil peran dalam mengolah buah unggulan menjadi produk pangan yang lebih beragam, bernilai tambah, dan disukai pasar,” ujar Agus dalam siaran persnya, Senin (11/05/2026).

Menurutnya, Indonesia termasuk salah satu negara penghasil buah tropis terbesar di dunia. Berbagai komoditas unggulan seperti pisang, durian, jeruk, mangga, nanas, dan manggis dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperluas pasar ekspor nasional.

“Sudah saatnya kita tidak hanya mengekspor buah segar, tetapi juga menikmati nilai tambah dari produk olahan buah tropis khas Indonesia. Pengembangan industri pengolahan buah akan memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi petani maupun pelaku industri pengolahan pangan,” katanya.

Agus menambahkan, penguatan hilirisasi industri buah tropis sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.

Berdasarkan data Buku Statistik Hortikultura 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi pisang nasional pada 2024 mencapai 9,26 juta ton. Provinsi dengan produksi terbesar antara lain Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Barat. Nilai ekspor pisang segar Indonesia pada tahun yang sama mencapai US$10,52 juta atau meningkat 10,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$9,5 juta. Volume ekspor juga meningkat dari 24,8 ribu ton menjadi 26,24 ribu ton dengan negara tujuan utama Malaysia, Jepang, dan Singapura.

Sementara itu, produksi mangga nasional mencapai 3,3 juta ton dengan nilai ekspor buah mangga segar dan olahan sebesar US$1,75 juta. Negara tujuan utama ekspor mangga Indonesia meliputi Singapura, Uni Emirat Arab, dan Malaysia.

Untuk komoditas nanas, produksi nasional mencapai 2,74 juta ton dengan nilai ekspor buah nanas segar dan olahan mencapai US$316,1 juta. Produk nanas Indonesia banyak diekspor ke Amerika Serikat, Tiongkok, dan Belanda.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, mengatakan industri olahan buah memiliki prospek menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan sehat dan berkembangnya tren produk natural food.

“Industri olahan buah ini punya prospek yang bagus di tengah isu ketahanan pangan dan semakin besarnya kesadaran masyarakat terhadap olahan pangan sehat,” ujarnya.

Reni menjelaskan, dari total 4.445.070 unit usaha industri di Indonesia, sebanyak 4.435.542 unit merupakan IKM dan sekitar 46,63 persen di antaranya bergerak di sektor pangan.

Ia menambahkan, Ditjen IKMA terus melakukan pembinaan terhadap IKM olahan buah, mulai dari peningkatan teknologi dan kapasitas produksi, penguatan kualitas kemasan, peningkatan standar keamanan pangan internasional, hingga perluasan akses pasar melalui pameran dan temu bisnis.

“Maka itu, Ditjen IKMA terus melakukan pendampingan bagi IKM yang memanfaatkan bahan baku buah tropis ini dalam hal peningkatan teknologi dan kapasitas produksi, peningkatan kualitas kemasan produk, peningkatan keamanan pangan berstandar internasional, peningkatan nilai tambah komoditas, dan peningkatan akses pasar melalui pameran dan temu bisnis,” jelasnya.

Meski peluang pasar dinilai terbuka lebar, Reni mengakui hilirisasi industri buah tropis masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti stabilitas pasokan bahan baku, keterbatasan teknologi pengolahan, serta aspek branding dan pemasaran produk.

“Peluang pasar terbuka lebar, oleh sebab itu Kemenperin terus mendampingi IKM olahan buah agar bisa memenuhi standar jumlah dan kualitas pasokan, memiliki sertifikasi HACCP, dan mampu berinovasi dengan teknologi yang lebih modern agar produknya mampu bersaing di pasar domestik maupun global,” paparnya.

Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, Afrizal Haris, menambahkan salah satu tantangan utama IKM olahan buah adalah menjaga kualitas bahan baku selama distribusi dan logistik. Namun, menurutnya, tantangan tersebut dapat diatasi melalui pemanfaatan teknologi pengolahan dan penyimpanan modern.

“Kita juga terus mendorong diversifikasi produk agar IKM mampu menghasilkan berbagai produk turunan seperti buah kaleng, selai, buah kering, hingga bahan campuran untuk industri kosmetik,” kata Afrizal.

Selain pembinaan teknis, Ditjen IKMA juga mendorong pelaku IKM memanfaatkan fasilitas pembiayaan melalui Kredit Industri Padat Karya (KIPK). Salah satu IKM binaan yang telah memanfaatkan program tersebut adalah CV Sahabat Pangan yang memperoleh pembiayaan sebesar Rp2 miliar untuk revitalisasi rumah produksi dan pengadaan mesin vacuum frying serta smart cold storage.

“Dengan revitalisasi rumah produksi dan pengadaan mesin baru tersebut, IKM tentunya menjadi lebih percaya diri dan siap memenuhi permintaan pasar ekspor,” tutupnya.

Share This Article