ACEH TENGAH, ReaksiNasional.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) berkolaborasi dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) membangun 33 ruang kelas darurat di sembilan sekolah terdampak bencana di Aceh dan Sumatra Utara. Program tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan selama proses pemulihan pascabencana.
Ruang kelas darurat tersebut tersebar di tiga kabupaten, yakni Kabupaten Tapanuli Tengah di Sumatra Utara, serta Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Gayo Lues di Aceh. Secara keseluruhan, sebanyak 10 ruang kelas akan dibangun di tiga sekolah di Kabupaten Tapanuli Tengah, empat ruang kelas di SD Negeri 10 Linge Kabupaten Aceh Tengah, dan 19 ruang kelas di lima sekolah di Kabupaten Gayo Lues.
Program pemulihan sektor pendidikan itu ditandai dengan peletakan batu pertama di SD Negeri 10 Linge, Desa Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Senin (16/6/2026).
Ketua Pos Koordinasi Nasional (Poskornas) MDMC PP Muhammadiyah Indrayanto mengatakan, peletakan batu pertama tersebut menjadi langkah awal dalam mendukung keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak terdampak bencana.
“Hari ini kami berada di Desa Jamat, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, tepatnya di SD Negeri 10 Linge. Di sini akan dibangun ruang kelas darurat dan dilakukan peletakan batu pertama serta doa bersama dengan masyarakat, guru, dan kepala sekolah,” katanya.
Indrayanto berharap proses pembangunan berjalan lancar sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali tumbuh, berkembang, dan berkemajuan. Menurutnya, pembangunan ruang kelas darurat tersebut merupakan bagian dari kerja sama MDMC dan Kemendikdasmen dalam mempercepat pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak bencana.
“Kegiatan ini merupakan simbol kemitraan antara MDMC dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam pembangunan ruang kelas darurat di Tapanuli Tengah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Total terdapat sembilan sekolah dan 33 ruang kelas darurat yang akan dibangun. Harapannya pendidikan pascabencana dapat bangkit kembali dan berjalan dengan baik,” urainya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 10 Linge Nurdinsah menyampaikan apresiasi kepada Kemendikdasmen dan MDMC atas dukungan yang diberikan kepada sekolahnya. Ia menilai bantuan ruang kelas darurat sangat penting untuk menjaga keberlangsungan proses pembelajaran.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta tim MDMC Muhammadiyah yang telah hadir membangun empat ruang kelas darurat di sekolah kami. Bantuan ini sangat berarti bagi keberlangsungan proses belajar mengajar,” katanya.
Hingga pertengahan Juni 2026, pembangunan ruang kelas darurat di Kabupaten Tapanuli Tengah telah menyelesaikan tahap verifikasi dan distribusi material ke gudang utama, serta mulai memasuki tahap pengerjaan di lapangan. Sementara itu, di Kabupaten Gayo Lues, pembangunan pada salah satu sekolah di Blangkejeren telah dimulai, sedangkan beberapa lokasi lainnya masih menunggu tahapan lanjutan.
Melalui pembangunan ruang kelas darurat ini, MDMC bersama Kemendikdasmen berupaya memastikan layanan pendidikan tetap berjalan bagi anak-anak terdampak bencana. Program tersebut juga menjadi bagian dari percepatan pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak agar siswa dapat kembali belajar dalam kondisi yang lebih layak.


