BEKASI, ReaksiNasional.com – Kementerian Agama Republik Indonesia menggencarkan program Masjid Ramah Pemudik yang mulai beroperasi di sejumlah daerah sebagai tempat singgah bagi para pemudik yang melakukan perjalanan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Di Kabupaten Bekasi, tiga masjid telah membuka layanan 24 jam bagi para musafir, salah satunya Masjid Besar Al-Hidayah di Cikarang Barat.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis M. Hanafi menjelaskan program tersebut merupakan tindak lanjut dari gerakan nasional Masjid Ramah Pemudik yang diluncurkan Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii di Kantor Pusat Kementerian Agama, Jakarta, pada 11 Maret 2026.
Menurutnya, program ini merupakan upaya Kementerian Agama menghadirkan layanan keagamaan yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, khususnya bagi para pemudik yang menempuh perjalanan jauh.
“Masjid Ramah Pemudik merupakan bagian dari upaya Kementerian Agama menghadirkan layanan keagamaan yang nyata dirasakan masyarakat. Kita ingin memastikan para pemudik dapat beristirahat dengan aman, nyaman, dan melanjutkan perjalanan dalam kondisi yang lebih baik,” ujar Muchlis saat membuka secara resmi operasional layanan tersebut, Jumat (13/3/2026).
Ia menambahkan bahwa program ini juga menjadi langkah untuk menghidupkan kembali fungsi sosial masjid, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pelayanan dan kepedulian sosial bagi masyarakat.
“Masjid sejak awal sejarah Islam bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat pelayanan umat. Melalui program ini, kita ingin mengembalikan fungsi sosial masjid sebagai tempat yang menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat,” jelasnya.
Muchlis menegaskan bahwa pelayanan kepada para pemudik tidak sekadar kegiatan operasional, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan, sosial, dan kemanusiaan.
“Melayani pemudik bukan sekadar kegiatan administratif. Ini adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan, sosial, dan kemanusiaan kita,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, menjaga keselamatan manusia merupakan salah satu tujuan utama syariat atau maqashid al-syari’ah, khususnya dalam prinsip hifz al-nafs atau perlindungan terhadap jiwa.
“Menyediakan tempat istirahat dan berbagai fasilitas bagi pemudik adalah bagian dari upaya menjaga keselamatan jiwa. Melayani musafir merupakan bagian dari hifz al-nafs. Dengan beristirahat sejenak, mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih aman hingga sampai ke tujuan,” ujarnya.
Muchlis juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut perjalanan sebagai “qith‘ah min al-‘adzab” atau sepotong dari penderitaan karena beratnya perjalanan. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan untuk saling membantu meringankan beban orang yang sedang melakukan perjalanan.
Ia mengapresiasi para penyuluh agama serta relawan yang terlibat dalam layanan Masjid Ramah Pemudik dan berharap pelayanan tersebut dijalankan dengan penuh keikhlasan.
“Jangan berkecil hati jika pada sepuluh hari terakhir Ramadan nanti tidak bisa sepenuhnya beribadah di masjid karena harus melayani para pemudik. Membantu sesama yang sedang dalam perjalanan juga merupakan bagian dari ibadah yang sangat mulia,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bekasi, Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Direktorat Penerangan Agama Islam, Camat Cikarang Barat, Kapolsek Cikarang Barat, Ketua Umum IPARI Kabupaten Bekasi, para kepala KUA, penyuluh agama Islam, serta para penghulu di Kabupaten Bekasi.
Selain Masjid Besar Al-Hidayah, layanan Masjid Ramah Pemudik di Kabupaten Bekasi juga tersedia di Masjid Jami Darussa’adah dan Masjid Jami Al-Barkah.
Melalui program ini, para pemudik dapat memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan di masjid, seperti tempat ibadah, ruang istirahat, layanan kesehatan, takjil berbuka puasa, konsultasi keagamaan bagi musafir, hingga fasilitas pendukung perjalanan seperti pengisian bahan bakar dan kebutuhan logistik sederhana.
Program Masjid Ramah Pemudik sendiri merupakan bagian dari gerakan nasional Kementerian Agama yang melibatkan ribuan masjid di berbagai daerah sebagai titik layanan singgah bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik sekaligus menghidupkan kembali peran masjid sebagai pusat pelayanan umat.


