Kembali ke Semarang Zoo, Bimo Ungkap Strategi Konservasi Satwa

2 Min Read

, ReaksiNasional.com – Manajemen Semarang Zoo menegaskan bahwa pengosongan kandang merupakan bagian dari strategi konservasi jangka panjang yang berbasis pertimbangan ilmiah. Direktur PT Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, menyampaikan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk mencegah risiko inbreeding atau perkawinan sedarah yang dapat berdampak buruk pada keberlangsungan satwa.

Bimo menjelaskan, seluruh harimau benggala yang sebelumnya berada di Semarang Zoo merupakan hasil pembiakan lama. Untuk menjaga kualitas genetik, diperlukan indukan atau pejantan baru agar keturunan yang dihasilkan tidak mengalami cacat genetik atau risiko kematian sebelum mencapai usia dewasa. Oleh karena itu, pihaknya secara sengaja mengosongkan kandang harimau dan menukarnya dengan beberapa satwa baru seperti kapibara dan sitatunga.

Menurutnya, warna bulu harimau yang terlihat lebih pucat atau mendekati putih merupakan salah satu indikasi terjadinya inbreeding. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari perkembangan organ yang tidak optimal, nafsu makan yang menurun, hingga risiko kematian dini.

Selain itu, Bimo menyebutkan bahwa Semarang Zoo juga berencana menambah koleksi sebagai bagian dari upaya konservasi satwa endemik Indonesia. Untuk itu, kandang yang saat ini dikosongkan akan dipersiapkan guna mendatangkan Harimau Sumatra melalui mekanisme kerja sama antar lembaga konservasi.

Ia menegaskan bahwa konservasi merupakan kewajiban seluruh lembaga konservasi satwa. Oleh sebab itu, Semarang Zoo akan terus mengupayakan pengembangan koleksi satwa melalui skema hibah maupun tukar-menukar satwa sesuai dengan ketentuan yang berlaku, guna mendukung program pengembangbiakan yang sehat dan berkelanjutan.

Selain harimau, Bimo juga menyoroti keberadaan tiga ekor orangutan Kalimantan jantan di Semarang Zoo yang hingga kini belum dapat dikembangbiakkan karena tidak adanya individu betina. Ia menyampaikan bahwa pihaknya tengah memikirkan solusi, termasuk kemungkinan menukar dua ekor orangutan jantan dengan individu betina agar program konservasi orangutan dapat berjalan optimal.

Menanggapi berbagai kabar negatif yang beredar di media sosial, Bimo menegaskan bahwa pihaknya tetap berpegang pada prinsip kerja berbasis ilmu pengetahuan. Ia menyatakan tidak ingin terpengaruh oleh isu-isu yang tidak didukung pemahaman konservasi yang memadai, karena pengelolaan satwa memerlukan disiplin ilmu dan pendekatan profesional.

Share This Article