GARUT, ReaksiNasional.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) mengajak Muhammadiyah, khususnya organisasi perempuan ‘Aisyiyah, untuk memperluas peran sosial dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari stunting, buta huruf, hingga kenakalan remaja.
Ajakan tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Kabupaten Garut yang mengusung tema Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian, Kamis (25/6/2026).
Menurut Dedi, peran sosial Muhammadiyah tidak cukup hanya menyasar kalangan internal organisasi, tetapi juga harus menjangkau masyarakat secara luas. Ia menilai karakter, nilai, dan akhlak yang dimiliki warga Muhammadiyah layak menjadi teladan dalam membangun kehidupan sosial.
“Peran sosial kemasyarakatan Muhammadiyah harus diperluas, tidak cukup dilakukan pada internal warga Muhammadiyah. Sebab karakter dan akhlak yang dimiliki oleh Muhammadiyah sudah layak dicontoh oleh yang lain,” ujarnya.
Dedi berharap ‘Aisyiyah dapat mengambil peran sebagai pendamping bagi anak-anak yang kehilangan perhatian orang tua akibat bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri maupun mereka yang berasal dari keluarga tidak utuh (broken home). Menurutnya, kehadiran organisasi kemasyarakatan sangat dibutuhkan untuk memberikan kasih sayang dan pendampingan kepada anak-anak tersebut.
Ia juga meminta kader-kader ‘Aisyiyah aktif mendekati anak-anak yang rentan terhadap pergaulan negatif dengan pendekatan yang humanis dan penuh kasih sayang.
“Nanti ‘Aisyiyah itu turun samperin anak-anak yang nongkrong, peluk penuh cinta, ajakin ke majelis dan anterin pulang. Kalau orang tuanya tidak ada, biarkan ibu-ibu ‘Aisyiyah menjadi ibu angkat dari anak-anak yang broken home,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga mengungkapkan kekagumannya terhadap kesederhanaan para tokoh Muhammadiyah. Menurutnya, meskipun organisasi tersebut mengelola dana dalam jumlah besar, para pemimpinnya tetap menjalani kehidupan yang sederhana dan menjadi teladan bagi masyarakat.
Selain persoalan stunting, buta huruf, dan kenakalan remaja, Dedi juga menyinggung berbagai tantangan sosial lain yang dihadapi Jawa Barat, termasuk persoalan terkait kelompok LGBT. Menurutnya, pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan penyelesaian akar persoalan dengan tetap menghormati martabat setiap manusia.
“Ini yang harus kita dakwahi, caranya selesaikan problemnya. Dia kekurangan kasih sayang. Semuanya harus kita lakukan. Ini tantangan terberat kita saat ini,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan seperti ‘Aisyiyah dapat memperkuat upaya pemberdayaan keluarga sekaligus menciptakan lingkungan sosial yang lebih peduli terhadap anak-anak dan kelompok rentan di Jawa Barat.


