Jatma Aswaja Tegaskan Jihad Saat Ini Melawan Kemiskinan dan Kebodohan

3 Min Read
Ketua PC Jatma Aswaja Kota Semarang KH Agus Ramadhan memberikan sambutan dalam pembukaan Muskercab I Jatma Aswaja Kota Semarang di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (17/5/2026).

, ReaksiNasional.com – Ketua Pimpinan Cabang (PC) Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh Ahlussunah Wal Jamaah (Jatma Aswaja) Kota Semarang, KH Agus Ramadhan, menegaskan bahwa jihad pada era Indonesia merdeka saat ini bukan lagi dimaknai sebagai perjuangan mengangkat senjata, melainkan berjuang melawan kemiskinan dan kebodohan.

Hal itu disampaikan KH Agus Ramadhan saat membuka Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I Jatma Aswaja Kota Semarang di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, Gunungpati, Kota Semarang, Sabtu (17/5/2026).

“Jihad saat ini adalah jihad di bidang ekonomi dan pendidikan karena yang jadi musuh saat ini adalah kemiskinan dan kebodohan,” ujar KH Agus Ramadhan.

Ia menekankan pentingnya peran organisasi dalam mendorong kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, kekuatan ekonomi menjadi fondasi penting dalam mendukung berbagai aktivitas sosial maupun keagamaan.

“Sedekah butuh uang, umrah dan haji butuh uang. Segala sesuatu butuh uang, termasuk berjuang juga membutuhkan kekuatan pendanaan,” jelasnya.

Melalui organisasi dan tarekat, KH Agus Ramadhan mengajak seluruh anggota untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, baik melalui ilmu pengetahuan maupun amal perbuatan.

“Orang thoriqoh harus memberikan manfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Senada dengan itu, Wakil Ketua PW Jatma Aswaja Jawa Tengah, Habib Novel Al-Muthahar, menyatakan bahwa penguatan ekonomi umat menjadi program prioritas di seluruh tingkatan organisasi. Karena itu, ia berharap adanya program yang jelas dan terarah dalam pembinaan ekonomi masyarakat.

Selain menyoroti aspek ekonomi, Habib Novel juga mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan dan keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat maupun berorganisasi. Menurutnya, persatuan menjadi modal utama dalam menjalankan dakwah dan mengembangkan organisasi.

“Semua pengurus harus rukun dan saling mendukung. Jika tidak rukun, organisasi yang sudah besar juga akan tercerai-berai seperti buih di lautan,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Habib Novel turut menyampaikan pesan dari Habib Muhammad Luthfi bin Yahya bahwa Jatma Aswaja tetap merupakan bagian dari warga Nahdlatul Ulama (NU), meskipun memiliki wadah organisasi tarekat yang berbeda dengan Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman).

Karena itu, ia mengingatkan agar seluruh pengurus dan anggota tidak saling menjelekkan ataupun merendahkan organisasi lain yang masih berada dalam lingkungan Nahdliyin.

“Jangan ada pengurus dan anggota Jatma Aswaja yang menjelek-jelekkan Jatman. Kita tetap Nahdliyin, hanya saja untuk organisasi thoriqoh kita punya bendera sendiri, yaitu Jatma Aswaja,” tegasnya.

Share This Article