SEMARANG, ReaksiNasional.com – Pengurus Besar (PB) Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh Ahlussunah Wal Jamaah (Jatma Aswaja) mengingatkan seluruh pengurus dan anggotanya untuk tidak menjelek-jelekkan organisasi lain, khususnya Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman).
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua PW Jatma Aswaja Jawa Tengah, Habib Novel Al-Muthahar, saat memberikan arahan dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I Jatma Aswaja Kota Semarang di Pondok Pesantren Durrotu Aswaja, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (17/5/2026) pagi.
Menurut Habib Novel, pesan tersebut berasal dari Rois Syuriah PB Jatma Aswaja, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, yang menekankan pentingnya menjaga akhlak dan persaudaraan antarsesama warga Nahdliyin.
“Beliau pesan, jangan ada pengurus dan anggota Jatma Aswaja yang menjelek-jelekkan Jatman. Kita tetap Nahdliyin, hanya saja untuk organisasi thoriqoh kita punya bendera sendiri yaitu Jatma Aswaja,” tegas Habib Novel.
Ia menambahkan, Habib Luthfi juga melarang adanya komentar negatif terhadap Nahdlatul Ulama (NU), bahkan hanya dalam bentuk sindiran kecil sekalipun. Menurutnya, lebih baik energi organisasi diarahkan untuk menjalankan program yang bermanfaat bagi masyarakat daripada sibuk berkomentar di media sosial.
Habib Novel mengingatkan bahwa para Wali Songo dahulu menyebarkan Islam di Nusantara dengan mengedepankan ilmu dan akhlak sebagai kekuatan utama dalam berdakwah. Karena itu, Jatma Aswaja juga diharapkan mampu membesarkan organisasi dengan pendekatan yang sama dalam menghadapi dinamika sosial, politik, ekonomi, maupun keagamaan.
“Boleh saja direndahkan, tetapi jangan merendahkan orang lain. NU dan Wali Songo berdakwah dengan ilmu dan akhlak hingga menjadi besar dan memiliki banyak pengikut,” ujarnya.
Ia juga mencontohkan perjuangan Nabi Muhammad SAW yang selalu mengedepankan ilmu dan akhlak hingga Islam dapat berkembang ke berbagai penjuru dunia.
Dalam kesempatan itu, Habib Novel meminta seluruh pengurus Jatma Aswaja Kota Semarang untuk memiliki keyakinan dan optimisme dalam menjalankan program organisasi sesuai aturan yang berlaku.
“Yang pertama itu yakin dulu, karena yakin merupakan setengah dari keberhasilan. Tidak ada usaha yang berhasil tanpa berusaha dan yakin bahwa usahanya akan berhasil,” katanya.
Ia mencontohkan, seorang pelajar harus yakin mampu menyelesaikan kuliah untuk menjadi sarjana, begitu pula seorang pedagang harus yakin dagangannya dapat menghasilkan keuntungan. Menurutnya, prinsip keyakinan tersebut juga harus diterapkan dalam membangun organisasi agar Jatma Aswaja dapat berkembang lebih besar.
Habib Novel turut menjelaskan tahapan perjuangan umat Islam dari masa ke masa. Pada era Pangeran Diponegoro, perjuangan dilakukan melalui peperangan melawan penjajah. Meski belum berhasil meraih kemerdekaan saat itu, semangat perjuangan terus berlanjut melalui masjid, mushala, dan pesantren hingga akhirnya para ulama bersatu dalam wadah Nahdlatul Ulama (NU). (*)


