Ad image

Jateng Jadi Produsen Batik Terbesar Nasional, Wagub Dorong UMKM Tembus Pasar Global

4 Min Read

SEMARANG, reaksinasional.com menegaskan posisinya sebagai pusat produksi batik terbesar di Indonesia. Data Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah mencatat, jumlah produsen batik di wilayah ini mencapai 2.229 unit, jauh melampaui provinsi lain seperti Jawa Timur dengan 216 unit, Daerah Istimewa Yogyakarta 140 unit, dan Jawa Barat sebanyak 115 unit.

Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Tengah, Hj. , M.S.I., menyampaikan capaian tersebut saat memberikan sambutan pada Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dekranasda Provinsi Jawa Tengah, Senin, 15 Desember 2025. Ia menyebut produk kriya Jawa Tengah telah lama menjadi primadona dan memiliki pangsa pasar kuat, baik di tingkat regional, nasional, hingga internasional, termasuk melalui e-commerce dan media sosial.

Menurutnya, performa transaksi produk kerajinan Jawa Tengah juga menunjukkan tren yang membanggakan. Pada peringatan HUT Dekranas ke-45 di Balikpapan, transaksi selama tiga hari tercatat mencapai Rp 926,7 juta. Sementara itu, kegiatan business matching di Surakarta yang berlangsung selama tiga hari berhasil membukukan nilai kemitraan sebesar Rp 4,3 miliar. Selain itu, lima UKM asal Jawa Tengah juga berhasil meraih penghargaan pada ajang Dekranasda Awards 2025.

Meski demikian, Ning Nawal mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam upaya menembus pasar global. Tantangan tersebut antara lain branding produk yang belum seragam dan belum menonjolkan kekhasan daerah, kualitas konten visual yang belum konsisten, keterbatasan literasi digital, serta jaringan pemasaran yang belum terintegrasi secara optimal.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah mendorong pelaku UMKM untuk terus melakukan terobosan agar mampu bersaing di pasar internasional. Ditemui di sela-sela pelaksanaan Rakerda, Gus Yasin menilai geliat ekonomi dari sektor UMKM sudah terlihat dari berbagai pameran yang difasilitasi Dekranasda Jawa Tengah.

“Kalau melihat hasil pameran yang sudah dilakukan, perputaran ekonominya nyata. Tantangannya sekarang adalah bagaimana UMKM bisa go global, dan itu mensyaratkan standar produk yang harus terpenuhi,” ujar Gus Yasin, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Ia menambahkan, berbagai pameran yang digelar di sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan kawasan Soloraya, selalu menunjukkan minat pasar yang tinggi terhadap produk-produk Dekranasda Jawa Tengah. Karena itu, ia mendorong setiap kabupaten dan kota untuk terus menggali dan menonjolkan potensi khas daerah masing-masing sebagai pintu masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk internasional.

Gus Yasin menilai momentum Rakerda Dekranasda 2025 harus dimanfaatkan untuk memetakan peluang tersebut, termasuk melalui penyusunan kalender pameran tahun 2026 yang diharapkan menjadi ajang strategis sekaligus ruang kurasi untuk menghasilkan produk-produk terbaik.

Di sisi dukungan kebijakan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dinilai serius memperkuat UMKM. Gubernur Ahmad Luthfi, kata Gus Yasin, menunjukkan komitmen tersebut melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada pelaku usaha menengah ke bawah. Hingga tahun 2025, penyaluran KUR di Jawa Tengah tercatat sebagai yang tertinggi di Indonesia, dengan total mencapai Rp 361,36 triliun dan melibatkan sekitar 10,31 juta debitur.

Selain itu, perkembangan investasi di Jawa Tengah juga dinilai semakin positif dengan hadirnya sejumlah proyek strategis nasional yang mendorong pertumbuhan industri skala besar. Di saat yang sama, KUR membuka akses permodalan bagi pelaku ekonomi menengah ke bawah, sehingga pemerataan ekonomi dapat berjalan seimbang.

“Harapannya, pertumbuhan ekonomi ini bisa dirasakan semua lapisan. Usaha menengah ke atas berjalan, menengah ke bawah juga bergerak,” pungkas Gus Yasin.

Share This Article