Iswar Aminuddin: Kota Semarang Kehilangan Sosok Panutan KH Ahmad Hadlor Ihsan

3 Min Read
Sejumlah tokoh dan masyarakat menghadiri prosesi pemakaman KH Ahmad Hadlor Ihsan di kompleks pemakaman belakang Pesantren Al Ishlah Mangkang Kulon, Sabtu (14/2/2026).

, ReaksiNasional.com – Wafatnya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Kota Semarang. Wakil Wali Kota Semarang menyebut kepergian ulama kharismatik tersebut sebagai kehilangan besar bagi warga, karena sosoknya selama ini menjadi panutan dan teladan.

“Beliau adalah panutan, teladan bagi kita semua. Ini artinya kita, warga Kota Semarang kehilangan sosok teladan,” ujar Iswar, Sabtu (14/2/2026).

Menurut Iswar, KH Ahmad Hadlor Ihsan tidak hanya dikenal sebagai pengasuh Pesantren Al Ishlah Mangkang Kulon, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam membangun karakter masyarakat melalui penanaman akhlak dan nilai-nilai keagamaan. Kiprahnya dinilai memberi warna dalam perjalanan pembangunan spiritual di Kota Semarang.

Kesaksian serupa disampaikan Ketua Baznas RI, Prof. Dr. Noor Ahmad, yang mengaku telah lama mengenal almarhum, sejak sebelum aktif di Masjid Agung Jawa Tengah hingga menjabat komisioner Baznas Jawa Tengah hampir dua periode. Ia mengenang peran aktif KH Hadlor saat pandemi Covid-19, terutama dalam upaya mencari bantuan kesehatan bagi para kiai dan santri.

“Perhatian beliau terhadap keselamatan kiai dan santri saat pandemi memang sungguh luar biasa,” ujarnya.

Noor Ahmad juga menyebut perhatian KH Hadlor terhadap pendidikan santri diwujudkan melalui dukungan beasiswa. Ia menyampaikan kesaksian pribadi atas kebaikan almarhum dan mendoakan agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, Muhtasit, turut memberikan kesaksian di pemakaman umum belakang Pesantren Al Ishlah. Ia menuturkan bahwa KH Ahmad Hadlor Ihsan sangat memberi perhatian terhadap pendidikan dasar keagamaan, khususnya kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil.

Muhtasit mengenang, beberapa hari setelah dirinya dilantik sebagai Kepala Kemenag Kota Semarang, ia bersama jajaran sowan ke kediaman KH Hadlor. Saat itu, almarhum berpesan agar pendidikan Al-Qur’an dan salat diperkuat sejak tingkat RA, MI, MTs, hingga MA.

“Tolong anak-anak RA dibekali Al-Qur’an, anak-anak MI, MTs dan MA dibekali Al-Qur’an. Ajarkan cara membaca yang tartil,” ujar Muhtasit menirukan pesan almarhum.

Selain itu, almarhum juga menekankan pentingnya pembelajaran bacaan salat, dzikir, dan doa yang benar sebagai fondasi pendidikan agama di sekolah formal.

Kabar duka meninggalnya KH Ahmad Hadlor Ihsan, yang juga Mustasyar PCNU Kota Semarang serta komisioner Baznas Jawa Tengah dan pengurus Masjid Agung Jawa Tengah, tersebar luas melalui berbagai grup percakapan dan media sosial. Puluhan karangan bunga tampak berjajar di sepanjang jalan depan masjid dan pesantren. Ribuan pelayat, termasuk tokoh Islam, pejabat birokrasi, dan politisi, hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.

Share This Article