Ad imageAd image

Inovasi Samber Ceu Pilah Sarijadi, Ubah Sampah Jadi Rupiah dan Ketahanan Pangan

3 Min Read

– Kelurahan Sarijadi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, mengembangkan inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program “” (Sampah Habis di Sumber, Cegah, Pilah, dan Olah). Program yang digerakkan di RW 01 hingga RW 11 ini diklaim mampu menekan volume buangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus menciptakan nilai ekonomi dan ketahanan pangan.

Lurah Sarijadi, Evi Sjopiah Tusti, menjelaskan bahwa program ini diawali dengan sosialisasi masif kepada warga untuk memilah sampah sejak dari rumah. Sampah yang telah terpilah kemudian diolah secara mandiri maupun komunal di lingkungan RW.

“Bagi rumah warga yang sudah melaksanakan pemilahan sampah, kami tempelkan stiker Ceu Pilah sebagai tanda bahwa sampahnya sudah selesai di sumber,” ujar Evi dalam keterangan persnya, Selasa (30/12/2025).

Evi memaparkan mekanisme pengelolaan berdasarkan jenis sampah. Untuk sampah anorganik bernilai ekonomi (rongsok) seperti kardus, kaleng, besi, hingga plastik, warga menyedekahkannya kepada petugas kebersihan untuk didaur ulang. Volume sampah jenis ini mencapai sekitar 167 kilogram setiap dua hari dan menjadi tambahan penghasilan bagi petugas.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Sementara itu, sampah anorganik residu diolah menjadi biomassa yang dijual ke pabrik tekstil sebagai bahan bakar pendamping (co-firing) limbah batu bara.

“Setiap dua hari, pengelolaan sampah anorganik residu ini mencapai 289 hingga 300 kilogram. Manfaatnya bukan hanya untuk warga, tetapi juga industri menjadi lebih efisien,” terangnya.

Potensi besar lainnya berasal dari pengolahan sampah organik sisa makanan. Evi menyebut, volume sampah organik yang diolah mencapai 240 hingga 300 kilogram per dua hari. Sampah ini diubah menjadi Mikro Organisme Lokal (MOL), Pupuk Organik Cair (POC), serta kompos.

Produk turunan sampah organik tersebut dimanfaatkan warga untuk menyuburkan tanaman sayur, buah, dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Hal ini secara langsung mendukung kemandirian pangan warga tanpa harus membeli sayuran.

“Ini bukan hanya soal sampah, tapi soal ketahanan pangan masyarakat,” tegas Evi.

Keberhasilan program ini mendapat apresiasi dari Wali Kota Bandung, . Ia menilai peran aktif warga, khususnya ibu-ibu PKK, menjadi kunci perubahan perilaku hidup bersih di Sarijadi.

“Kalau sampah selesai di rumah, kota ini akan jauh lebih ringan bebannya. Dan yang paling konsisten menggerakkan perubahan itu memang ibu-ibu,” kata Farhan.

Farhan berharap model pengelolaan sampah di Sarijadi ini dapat direplikasi di wilayah lain untuk mendukung target Kota Bandung sebagai kota yang bersih dan berkelanjutan.

Share This Article