IKM Fesyen dan Kriya Naik Kelas, Kemenperin Dorong Model Bisnis Berbasis Budaya dan Keberlanjutan

4 Min Read
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama jajaran Kementerian Perindustrian dan akademisi Universitas Mahasaraswati Denpasar saat kegiatan penguatan transformasi industri kecil dan menengah fesyen dan kriya berbasis keberlanjutan dan budaya lokal.

, ReaksiNasional.com – Kementerian Perindustrian terus memperkuat transformasi industri kecil dan menengah (IKM) agar semakin berdaya saing, berkelanjutan, serta berakar pada nilai . Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) dengan Universitas Mahasaraswati Denpasar dalam pengembangan Sustainability and Culture Business Model Canvas (SC-BMC).

Menteri Perindustrian Kartasasmita menyampaikan bahwa transformasi model bisnis IKM menjadi agenda penting dalam mendukung Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN). Strategi tersebut menempatkan aspek keberlanjutan, inovasi, dan penguatan identitas lokal sebagai fondasi utama pengembangan industri nasional.

Menurutnya, IKM fesyen dan kriya memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi berkelanjutan berbasis budaya. Dengan pendekatan model bisnis yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya, pelaku IKM tidak hanya mampu meningkatkan daya saing, tetapi juga menciptakan nilai tambah berkelanjutan yang mencerminkan karakter Indonesia.

Sebagai bentuk konkret kolaborasi, BPIFK dan Universitas Mahasaraswati telah menandatangani nota kesepahaman serta melaksanakan penelitian bersama terkait penerapan SC-BMC. Model ini merupakan pengembangan dari Business Model Canvas klasik yang menggabungkan prinsip keberlanjutan dan nilai budaya dalam perancangan model bisnis IKM.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Reni Yanita menjelaskan bahwa SC-BMC tidak hanya menekankan profitabilitas, tetapi juga mendorong dampak positif terhadap manusia, lingkungan, serta pelestarian nilai-nilai lokal. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab tantangan bisnis sekaligus tuntutan pasar yang semakin sadar akan aspek keberlanjutan.

Reni mengungkapkan bahwa uji coba penerapan SC-BMC berbasis budaya lokal telah dilakukan pada 15 IKM di Bali dalam kondisi usaha nyata. Hasil pilot test menunjukkan bahwa model ini membantu pelaku IKM memahami potensi dan tantangan bisnis secara lebih menyeluruh, serta mendorong praktik usaha yang seimbang antara aspek ekonomi, sosial, lingkungan, dan budaya.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri menjadi kunci percepatan transformasi industri nasional. Dengan dukungan sumber daya manusia, riset terapan, dan kebijakan yang tepat, IKM fesyen dan kriya diyakini mampu naik kelas dan menembus pasar nasional hingga global.

Lebih lanjut, hasil penelitian menunjukkan bahwa SC-BMC mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan secara terpadu melalui 15 blok model bisnis yang saling terhubung. Model ini tidak hanya berfungsi sebagai alat perencanaan usaha, tetapi juga sebagai pendekatan transformasi IKM menuju bisnis yang berdaya saing, berkelanjutan, serta memiliki legitimasi sosial dan budaya.

Dari sisi pasar, SC-BMC dinilai relevan dalam merespons tren nasional dan global seperti meningkatnya kesadaran konsumen, keberlanjutan, digitalisasi, serta kebangkitan produk berbasis budaya lokal. Diferensiasi berbasis identitas budaya dinilai memberikan nilai tambah yang sulit ditiru oleh produk mass manufacturing, khususnya untuk segmen pasar premium, pariwisata budaya, dan ekspor berbasis nilai.

Aspek sosial dan budaya dari penerapan model ini juga menunjukkan dampak signifikan melalui pemberdayaan sumber daya manusia lokal, pelestarian pengetahuan tradisional, serta penguatan nilai komunitas. Sementara dari sisi lingkungan, penerapan prinsip circularity, penggunaan bahan ramah lingkungan, praktik guna ulang, dan efisiensi energi terbukti mampu menekan penggunaan sumber daya dan emisi tanpa mengurangi nilai produk.

Kepala BPIFK Dickie Sulistya menegaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi kunci dalam mendorong transformasi industri. Kerja sama tersebut tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi berlanjut pada pendampingan, inovasi, dan penerapan model bisnis yang aplikatif bagi pelaku IKM fesyen dan kriya di Indonesia.

Ke depan, kerja sama BPIFK dan Universitas Mahasaraswati Denpasar diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia di pasar fesyen dan kriya nasional maupun internasional melalui pendekatan bisnis yang berkelanjutan, inklusif, dan berakar kuat pada budaya lokal. (*)

Share This Article