Habib Luthfi Tegaskan Zikir dan NKRI dalam Pelantikan JATMA Aswaja di Batang

3 Min Read
Ribuan jamaah menghadiri pelantikan JATMA Aswaja kabupaten/kota se-Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta di Pondok Pesantren Darul Ulum Tragung, Batang, Minggu (3/5/2026).

, ReaksiNasional.com – Sekitar 3.000 jamaah memadati pelantikan JATMA Aswaja tingkat kabupaten dan kota se-Jawa Tengah serta D.I. Yogyakarta yang digelar di Pondok Pesantren Darul Ulum Tragung, Kabupaten Batang, Minggu (3/5/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum konsolidasi spiritual sekaligus penguatan organisasi berbasis thariqah di tengah tantangan sosial dan perkembangan zaman. Acara itu turut dihadiri Habib Luthfi bin Yahya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Bupati Batang M Faiz Kurniawan, serta jajaran pengurus JATMA Aswaja.

Dalam tausiyahnya, Habib Luthfi menegaskan pentingnya kalimat tauhid sebagai benteng spiritual umat Islam. Ia mengutip hadis yang menyebutkan bahwa kalimat “Lailahaillallah” menjadi benteng keselamatan bagi orang yang mengamalkannya.

“Lailahaillallah adalah benteng-Ku, siapa yang masuk akan aman dari siksa,” ujarnya.

Menurut Habib Luthfi, zikir tidak hanya sebatas ucapan lisan, tetapi harus menjadi latihan batin yang dilakukan secara terus-menerus hingga melekat dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengibaratkan hati manusia perlu dibersihkan sebagaimana tubuh dibersihkan dengan air.

“Setiap hari kita membersihkan tubuh, tapi kapan kita membersihkan hati?” katanya.

Ia menjelaskan bahwa latihan spiritual yang konsisten dapat membentuk karakter dan memengaruhi cara berpikir seseorang. Hati yang bersih, lanjutnya, akan melahirkan kejernihan akal serta gagasan-gagasan besar yang bermanfaat bagi kehidupan.

“Kalau hati bersih, akal akan bersinar dan melahirkan gagasan luar biasa,” ungkapnya.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, Habib Luthfi juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan bijak dalam menyampaikan informasi agar tidak memicu perpecahan di tengah masyarakat.

“Ngomong itu harus dipikir, apakah akan memecah umat atau tidak,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa praktik spiritual harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga persatuan bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“NKRI harga mati,” serunya yang disambut antusias jamaah.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal JATMA Aswaja, Helmy Faishal Zaini, mengatakan organisasi saat ini fokus pada penguatan struktur dan perluasan jaringan di berbagai daerah.

Menurut Helmy, JATMA Aswaja telah terbentuk di sembilan provinsi dengan ratusan cabang, terutama di Pulau Jawa serta sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan.

“Yang pertama adalah konsolidasi organisasi, kemudian penguatan program berbasis ekonomi komunitas,” ujarnya.

Program tersebut mencakup pengembangan sektor unggulan daerah seperti jagung, padi, dan tebu yang dikolaborasikan dengan berbagai pihak sebagai bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi umat.

Selain itu, JATMA Aswaja juga membuka ruang kemitraan melalui pelatihan hingga dukungan permodalan bagi cabang di daerah.

Helmy menegaskan bahwa JATMA Aswaja bukan tarekat baru, melainkan forum silaturahmi yang menghimpun berbagai thariqah dalam semangat persaudaraan dan pelestarian ajaran ulama.

“Ini forum silaturahmi para mursyid dan murid untuk melestarikan ajaran para ulama,” katanya.

Pelantikan tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial organisasi, tetapi juga mempertegas peran thariqah sebagai kekuatan spiritual dan sosial dalam menjaga persatuan serta membangun kemandirian umat.

Share This Article