KUDUS, ReaksiNasional.com – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menilai perlunya penerapan rekayasa cuaca dalam penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Kudus, Pati, dan Jepara. Hal tersebut disampaikan menyusul tingginya intensitas hujan yang terjadi secara terus-menerus selama empat hari berturut-turut di kawasan tersebut.
Saat mengunjungi Posko Bencana Banjir di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Selasa (13/1/2026), Taj Yasin menjelaskan bahwa selama beberapa hari terakhir wilayah terdampak hampir tidak mendapatkan sinar matahari. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu dasar hasil koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk mempertimbangkan langkah rekayasa cuaca guna menekan curah hujan.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juana untuk mengidentifikasi titik-titik sungai yang membutuhkan bantuan pompa. Namun demikian, upaya tersebut masih menghadapi kendala karena volume air di sejumlah sungai terpantau sangat melimpah akibat debit air yang tinggi dari wilayah hulu.
Dalam peninjauan tersebut, Wakil Gubernur mendapati posko pengungsian yang berlokasi di kompleks Sekolah Hidayatus Shibyan menampung sebanyak 105 jiwa. Posko tersebut telah dilengkapi layanan kesehatan, dapur umum, serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) guna memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Gus Yasin juga menemukan adanya warga yang memilih bertahan di rumah meski terdampak banjir karena memiliki anggota keluarga yang mengalami stroke. Menanggapi kondisi tersebut, ia meminta tenaga kesehatan untuk segera melakukan evakuasi ke puskesmas terdekat agar yang bersangkutan mendapatkan pelayanan medis yang lebih optimal.
Pada kesempatan yang sama, mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Taj Yasin menyalurkan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah senilai Rp188 juta. Bantuan tersebut berupa makanan siap saji, lauk pauk siap saji, tenda keluarga, tenda gulung, kasur, dan selimut untuk mendukung kebutuhan warga terdampak banjir.
Kepala Dusun Karangmalang, Sumijan, menyampaikan bahwa warga yang berada di posko telah memperoleh fasilitas yang memadai, termasuk dapur umum dan layanan kesehatan. Namun demikian, kebutuhan mendesak yang masih diperlukan warga antara lain sembako, selimut, serta popok untuk bayi dan lansia.
Berdasarkan data di lapangan, hujan berintensitas tinggi di Kabupaten Kudus terjadi sejak 9 Januari 2026. Banjir dipicu oleh luapan Sungai Dawe, Sungai Piji, dan Sungai Mrisen. Di Desa Golantepus, banjir diperparah oleh jebolnya tanggul akibat luapan Sungai Dawe dan Sungai Mrisen. Sementara banjir di Desa Kesambi disebabkan meluapnya Sungai Piji yang tidak mampu menampung debit air kiriman dari kawasan hulu Gunung Muria.
Selama kejadian banjir, tercatat sebanyak 2.082 rumah terendam dan 2.487 kepala keluarga atau sekitar 8.043 jiwa terdampak, dengan ketinggian air berkisar antara 5 hingga 55 sentimeter. Selain permukiman warga, sekitar 106,4 hektare lahan persawahan juga ikut terendam banjir.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kudus telah menetapkan status tanggap darurat bencana yang berlaku sejak 12 hingga 19 Januari 2026. Posko Induk Penanggulangan Bencana di Kantor BPBD Kudus diaktifkan sebagai pusat komando koordinasi antara TNI, Polri, relawan, serta organisasi perangkat daerah terkait.
Upaya penanganan di lapangan juga meliputi penambalan tanggul jebol di Desa Golantepus. Dinas terkait bersama BBWS, warga, dan relawan melakukan penutupan darurat menggunakan sandbag dan cerucuk bambu untuk menahan aliran air. Selain itu, dilakukan pembersihan sumbatan sampah dan eceng gondok di bawah sejumlah jembatan desa, terutama di Sungai Piji wilayah Desa Kesambi, yang selama ini menjadi salah satu penyebab meluapnya air ke badan jalan.


