Gus In’am Khawatir Bahasa Jawa Punah akibat Kebiasaan Berbahasa Indonesia

3 Min Read
Dosen UIN Walisongo Semarang Dr. In'amuzzahidin menjadi narasumber Bimbingan Teknis Penelusuran dan Penyelamatan Naskah Kuno yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Semarang di Hotel Grasia, Kamis (7/5/2026).

, ReaksiNasional.com – Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang, In’amuzzahidin atau yang akrab disapa Gus In’am, mengaku khawatir bahasa Jawa akan semakin ditinggalkan hingga terancam punah akibat kebiasaan masyarakat yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu disampaikan Gus In’am saat menjadi narasumber dalam kegiatan Bimbingan Teknis Penelusuran dan Penyelamatan Naskah Kuno yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Semarang di Hotel Grasia, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, bahasa Jawa bukan hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga mengandung nilai etika dan tata krama yang penting diajarkan kepada generasi muda.

“Bahasa Indonesia itu untuk mempermudah mengajar di sekolah atau kampus. Ini kalau anak-anak sekarang tidak terbiasa, lama-lama bahasa Jawa bisa punah,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahasa juga menjadi identitas budaya suatu daerah. Kemampuan memahami bahasa Jawa dinilai penting, terutama dalam upaya membaca dan memahami naskah-naskah kuno yang banyak ditulis menggunakan bahasa tersebut.

Dalam kesempatan itu, Gus In’am juga mengajak masyarakat untuk aktif melestarikan naskah kuno melalui kajian ilmiah dan pembentukan komunitas yang fokus merawat warisan literasi daerah.

Ia mencontohkan sejumlah komunitas pecinta tokoh ulama seperti Komunitas Pencinta Mbah Hasyim Asy’ari (Kopi Khas) dan Komunitas Pencinta Mbah Muslih bin Abdurrahman (Kopi Mulia) yang dinilai mampu mengembangkan berbagai kajian berbasis literasi sejarah dan budaya.

“Kalau setiap daerah memiliki komunitas yang konsen merawat maka akan banyak tokoh yang bisa digali,” jelasnya.

Menurutnya, naskah kuno merupakan bentuk keikhlasan para ulama dan tokoh terdahulu dalam menjaga ilmu pengetahuan tanpa orientasi materi.

“Waktu itu tidak ada royalti tulisan. Jadi murni menulis untuk melestarikan ilmu, jadi harus dipelajari,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komunitas Pencinta Mbah Sholeh Darat (Kopi Soda), Moh. Ichwan Dwi Saputro, menyoroti pentingnya penyelamatan naskah kuno agar tidak diklaim pihak atau negara lain.

Ia menilai, potensi klaim terhadap naskah kuno cukup besar karena sejumlah karya ulama Nusantara memiliki jejaring lintas negara dan pernah dicetak di luar negeri.

“Kalau sudah jelas ada di sini, kita jaga. Nah kalau ada naskah kuno yang dibeli, maka negara harus mempersiapkan anggaran untuk menyelamatkan naskah kuno,” ujarnya.

Ichwan juga mengajak masyarakat yang memiliki naskah kuno untuk melakukan pengarsipan digital melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Semarang agar dokumen tetap terselamatkan jika naskah asli mengalami kerusakan.

“Bisa menghubungi dinas kearsipan untuk dibuatkan versi digital, jadi naskah tetap ada jika versi asli rusak,” jelasnya.

Share This Article