BLORA, ReaksiNasional.com – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meresmikan Embung Karangjati di Kabupaten Blora sebagai bagian dari strategi meningkatkan produksi padi Jawa Tengah hingga 9,5–10,5 juta ton pada 2026. Embung tersebut diproyeksikan mampu mengairi sekitar 40 hektare lahan pertanian dan mendorong petani melakukan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Peresmian dilakukan pada Senin, 2 Februari 2026, di Dukuh Nglawiyan, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora. Embung Karangjati terdiri atas dua bangunan, yakni Embung Utara dan Embung Selatan, dengan total kapasitas tampung hampir 68 ribu meter kubik.
Embung Utara memiliki dimensi 78×68 meter persegi dengan volume sekitar 18.678 meter kubik, sedangkan Embung Selatan berdimensi 138×93 meter persegi dengan volume 49.320 meter kubik. Proyek senilai Rp8,5 miliar tersebut dibangun untuk menopang irigasi lahan pertanian, menyediakan air baku saat musim kemarau, serta membuka peluang pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan.
Ahmad Luthfi menyatakan embung tersebut menjadi model atau roadmap yang dapat direplikasi di daerah lain. Menurutnya, semakin banyak embung yang dibangun, semakin besar peluang peningkatan produktivitas padi di Jawa Tengah. Pada 2025, Pemprov Jateng telah membangun sekitar 10 embung dengan total anggaran Rp43 miliar yang tersebar di 35 kabupaten/kota, dan program tersebut akan ditingkatkan pada 2026.
Ia menegaskan pembangunan embung tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat melalui aktivitas turunan seperti UMKM dan pengelolaan kawasan sekitar embung.
Bupati Blora, Arief Rohman, menyampaikan apresiasi atas realisasi pembangunan Embung Karangjati yang telah dinantikan kelompok tani sejak 2017. Ia menyebut proyek tersebut semula masuk dalam rencana proyek strategis nasional, namun percepatan dari Pemprov Jateng membuat pembangunan dapat segera terealisasi.
Menurutnya, embung tersebut akan meningkatkan produksi padi di Kabupaten Blora sekaligus memperkuat komitmen daerah dalam mendukung ketahanan pangan 2026. Ia juga menyebut Blora merupakan salah satu daerah dengan potensi peternakan terbesar di Jawa Tengah, produksi jagung terbesar kedua, dan produksi padi peringkat keenam di provinsi tersebut.
Perwakilan Kelompok Tani Sidodadi, Karyono, mengungkapkan selama ini lahan pertanian di Karangjati mengandalkan sistem tadah hujan sehingga hanya mampu satu kali tanam padi per tahun. Upaya tanam dua kali sering mengalami kegagalan akibat kekurangan air. Dengan hadirnya embung, petani optimistis dapat meningkatkan pola tanam menjadi tiga kali dalam setahun, baik padi-padi-hortikultura maupun padi-padi-tembakau.
Melalui penambahan infrastruktur sumber daya air tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap produktivitas pertanian meningkat signifikan dan mampu memperkuat peran daerah sebagai lumbung pangan nasional.


