Ad image

Geber Proyek Logistik dan TOD, Ahmad Luthfi Gaet Inggris Jadi Mitra Strategis Jateng

6 Min Read

SEMARANG, reaksinasional.com – Gubernur , , mengambil langkah cepat dalam memacu pembangunan infrastruktur strategis di wilayahnya. Ia menegaskan komitmen kuat untuk bersinergi dengan Pemerintah Inggris guna mengakselerasi sektor logistik, transportasi publik, serta pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (KBT) atau Transit Oriented Development (TOD).

Hal tersebut diungkapkan Ahmad Luthfi setelah menerima kunjungan resmi delegasi Kedutaan Besar Inggris bersama tim Techne Praxis International di Semarang, pada Jumat (5/12/2025). Pertemuan ini menjadi langkah konkret menindaklanjuti diskusi sebelumnya antara Gubernur dengan Duta Besar Inggris pada Oktober lalu.

Menurut Luthfi, Inggris merupakan mitra yang sangat tepat untuk mendukung percepatan pembangunan di Jawa Tengah, khususnya dalam hal konektivitas antarwilayah dan manajemen logistik.

“Dalam mengembangkan Jawa Tengah, kita perlu pandangan yang holistik, terlebih ini menyangkut Penanaman Modal Asing (PMA). Mengapa saya memilih Inggris? Di tengah situasi perang dagang global, kami mencari mitra negara yang netral. Inggris adalah pilihan tepat untuk kita eksplorasi, khususnya dalam pengembangan dry port,” jelas Luthfi dalam audiensi tersebut.

Gubernur memprediksi kebutuhan mobilitas orang dan arus logistik di Jateng akan melonjak tajam dalam waktu dekat. Hal ini sejalan dengan mulai beroperasinya berbagai kawasan ekonomi baru di provinsi tersebut.

“Infrastruktur logistik dan transportasi harus siap dalam satu tahun ke depan, mengingat banyak kawasan ekonomi kami yang sudah mulai operasional,” tambahnya.

Demi merealisasikan target tersebut, Luthfi menginstruksikan jajarannya untuk segera menindaklanjuti kerja sama dengan Kedutaan Inggris. Ia menekankan pentingnya sikap proaktif atau jemput bola agar investasi segera masuk.

“Saran saya, kita harus segera jemput bola. Bila perlu, investor Inggris bisa bertemu saya besok. Saya juga sudah berkoordinasi dengan Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Mas AHY, serta menteri terkait lainnya. Sangat disayangkan jika kita lambat, karena potensi perkembangan investasi di Jateng sangat besar,” tegasnya.

Keyakinan Luthfi terhadap kolaborasi ini makin menguat setelah pertemuan lanjutan tersebut. Ia meminta pihak Kedutaan untuk terus menjembatani komunikasi agar eksekusi di lapangan bisa lebih cepat.

Tak hanya soal logistik, Luthfi juga mengapresiasi dukungan penuh dari Inggris dan Techne Praxis dalam rancangan pengembangan TOD di wilayah Semarang dan Kendal. “Untuk konsep KBT ini, saya sangat mendukung dan senang sekali. Ini sudah saya tunggu-tunggu,” imbuhnya.

Dukungan Program

Sementara itu, Iqbal Maulana Achmad selaku Director of Strategic Planning and Economics Techne Praxis International menjelaskan bahwa kolaborasi ini diperkuat melalui program UK PACT. Fokus utamanya adalah integrasi kawasan Semarang–Batang dan pengembangan transportasi massal.

“Pemerintah Inggris bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia, khususnya Pemprov Jateng, lewat UK PACT. Fokus kami adalah transportasi publik, termasuk jalur Semarang ke Batang, yang selaras dengan perkembangan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang,” papar Iqbal.

Iqbal menambahkan bahwa elemen TOD atau KBT menjadi kunci dalam kerja sama ini untuk mendukung pertumbuhan kawasan perkotaan. Pihaknya tidak hanya menyajikan kajian teknis, namun juga aktif mempertemukan para pemangku kepentingan (stakeholder) kunci, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga BUMN seperti KAI.

“Respons Gubernur sangat positif. Beliau berharap Inggris terus mendorong pembangunan di Jateng. Kami berharap proses pengembangan di kawasan Kedungsepur bisa lebih cepat untuk mendukung akselerasi ekonomi, agar manfaatnya dirasakan optimal oleh masyarakat,” ujarnya.

Tantangan dan Solusi Transportasi

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Arif Djatmiko, yang turut hadir, memaparkan data mendesak terkait kebutuhan angkutan barang. Ia menyebutkan, dari 12 juta kontainer di Jawa Tengah, baru sekitar 7 juta yang bisa tertampung di dalam provinsi, sementara sisanya harus keluar wilayah.

“Nantinya, dengan peningkatan Pelabuhan Tanjung Mas dan pengembangan dry port, serta pembuatan sistem kereta api loop, seluruh arus logistik Jateng akan tersentralisasi ke Semarang dan KIT Batang lewat jaringan kereta tersebut,” jelas Arif.

Percepatan TOD/KBT juga didasari oleh tantangan urban di kawasan Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, dan Purwodadi). Tantangan tersebut meliputi tingginya urban sprawl di mana 75% penduduk tinggal di luar kota inti, serta dominasi kendaraan pribadi yang mencapai 93%, berbanding terbalik dengan akses angkutan umum yang hanya 16,1%.

Terlebih lagi, kepadatan di koridor Semarang-Kendal-Weleri terus meningkat sebesar 8% setiap tahunnya, sehingga intervensi melalui sistem TOD menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda.

Sebagai informasi, dalam pertemuan strategis tersebut turut hadir sejumlah delegasi, antara lain Maria Renny (Cities & Transport Lead, UK PACT Programme Manager British Embassy Jakarta), Melissa Kusuma (Central Java & Yogyakarta Outreach Manager British Embassy Jakarta), dan Caesar Rollando (Low Carbon Transport Sectoral Lead, UK PACT Fund Associate, Palladium).

Dari pihak Techne Praxis International juga hadir Padraic Kelly (Senior Director), Puspita Galih Resi (Managing Director), serta Rahadi Marsito (Director of Real Estate Advisory and Portfolio Management). (*)

Share This Article