FTIK UIN Walisongo Bedah Etika Digital dan Pendidikan Islam Bersama Pakar Tiga Negara

3 Min Read
Seminar Internasional FTIK UIN Walisongo Semarang bertajuk “Digital Ethics and Islamic Education” digelar secara hybrid di Ruang Teater Gedung General Library & ICT Center UIN Walisongo Semarang, Kamis (18/6/2026), dengan menghadirkan pakar dari tiga negara.

SEMARANG, ReaksiNasional.com – Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang menggelar Seminar Internasional bertajuk “Digital Ethics and Islamic Education: Shaping Responsible Generations in the Era of Artificial Intelligence” pada Kamis (18/6/2026). Kegiatan tersebut membahas pentingnya etika digital dan peran pendidikan Islam dalam membentuk generasi yang bertanggung jawab di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Seminar yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WIB tersebut digelar secara hybrid, memadukan kehadiran fisik di Ruang Teater Gedung General Library & ICT Center UIN Walisongo Semarang dan akses daring melalui platform virtual. Kegiatan ini diikuti mahasiswa dan akademisi dari berbagai negara.

Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. dan Dekan FTIK UIN Walisongo Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag. hadir sebagai pembicara utama. Keduanya memberikan pandangan strategis mengenai bagaimana pendidikan Islam perlu merespons disrupsi teknologi yang berkembang pesat.

Dalam pemaparannya, Prof. Musahadi menekankan bahwa AI merupakan alat revolusioner yang memberikan kemudahan besar bagi dunia akademik. Namun, ia mengingatkan bahwa efektivitas dan dampak teknologi tersebut sangat bergantung pada nilai moral penggunanya.

“Kecerdasan buatan hadir membawa kemudahan luar biasa bagi dunia akademik. Namun, AI tidak memiliki spiritualitas dan kompas moral. Di sinilah peran krusial pendidikan Islam, yaitu menanamkan digital ethics atau etika digital berbasis nilai-nilai profetik, sehingga generasi muda kita tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bertanggung jawab dan berkarakter mulia,” tegas Prof. Musahadi.

Senada dengan hal itu, Prof. Abdul Rohman menegaskan pentingnya transformasi kurikulum pendidikan untuk menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar orisinalitas keilmuan Islam. Menurutnya, pendidikan Islam harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi tetap menjadikan pembentukan akhlak sebagai pilar utama.

“FTIK UIN Walisongo berkomitmen penuh untuk melahirkan pendidik masa depan yang adaptif. Melalui seminar ini, kita merumuskan strategi pembelajaran di mana AI diletakkan sebagai mitra akselerasi kognitif, sementara pembentukan akhlak tetap menjadi pilar utama yang tidak bisa digantikan oleh mesin algoritma mana pun,” ujar Prof. Abdul Rohman.

Untuk mengupas tema tersebut dari berbagai perspektif, seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara tamu dari tiga negara. Mereka yakni Assoc. Prof. Dr. Anis Malik Thoha, Lc., M.A., Ph.D. dari Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam, Dr. Mowafg Abrahem Masuwd, M.A. dari University of Zawiya Libya, serta Dr. Ruswan, M.A. dari UIN Walisongo Semarang, Indonesia.

Para pembicara memaparkan materi secara interaktif dan membuka ruang diskusi mengenai regulasi etis pemanfaatan AI, tantangan orisinalitas karya akademik, hingga peluang integrasi nilai-nilai Islam dalam ekosistem digital modern.

Melalui seminar internasional tersebut, FTIK UIN Walisongo berharap peserta tidak hanya memperoleh perluasan wawasan dan materi akademik, tetapi juga kesempatan membangun jejaring dalam komunitas akademik global. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong masa depan pendidikan Islam yang berkemajuan di era digital.

Share This Article