Forum Santri Anak Jateng Siapkan Program Pencegahan Kekerasan di Pesantren

3 Min Read
Pengurus Forum Santri Anak Jawa Tengah melakukan audiensi bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin dan DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Senin (25/5/2026).

SEMARANG, ReaksiNasional.com – Forum Santri Anak (Forsan Jateng) menyiapkan berbagai program penguatan perlindungan anak dan pencegahan kekerasan di lingkungan pesantren setelah resmi terbentuk pada akhir 2025.

Hal tersebut disampaikan pengurus Forsan Jateng saat audiensi bersama Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Jawa Tengah di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang, Senin (25/5/2026).

Ketua Forsan Jateng, Farel Alfariz, asal Pesantren Darul Falah Jepara, mengatakan forum tersebut dibentuk untuk memenuhi hak-hak anak dan santri di pondok pesantren, baik hak pendidikan, kesehatan, maupun perlindungan dari kekerasan dan perundungan.

“Forum ini menjadi pelopor dan pelapor. Karena kalau tidak ada yang memulai, maka tidak akan bergerak. Insya Allah forum ini akan menjadi wadah aspirasi santri terkait berbagai problematika di pondok pesantren,” ujarnya.

Forum Santri Anak Jawa Tengah resmi dibentuk pada 19–20 Desember 2025 di Asrama Haji Islamic Center Semarang. Pembentukan forum tersebut difasilitasi Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, DP3AKB Jawa Tengah, Lembaga Perlindungan Anak, dan Forum Anak Jawa Tengah.

Wakil Ketua Forsan Jateng, Nabila, asal Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, menambahkan forum tersebut menjadi forum santri anak pertama di Indonesia di tingkat provinsi. Menurutnya, para pengurus sebelumnya telah mendapatkan pembekalan mengenai konvensi hak anak, pendidikan keterampilan hidup, hingga konsep pelopor dan pelapor dalam perlindungan anak.

Dalam audiensi tersebut, Forsan Jateng memaparkan sejumlah program kerja 2026–2027, baik internal maupun eksternal. Program internal meliputi pengukuhan kepengurusan dan peningkatan kapasitas anggota melalui seminar serta pelatihan daring maupun luring.

Sementara itu, program eksternal meliputi pembentukan Forum Santri Anak di 35 kabupaten/kota, Safari Santri atau Forsan Goes to School, Survei Anak Santri Jawa Tengah (SAKJATENG), hingga program edukasi melalui siaran langsung media sosial dan webinar.

“Nanti kami akan berkunjung ke pesantren-pesantren untuk saling mengedukasi tentang pesantren ramah anak dan pencegahan bullying maupun kekerasan,” kata Nabila.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyambut baik pembentukan Forum Santri Anak yang dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat perlindungan anak di lingkungan pesantren.

Ia menilai tantangan kekerasan terhadap anak saat ini semakin kompleks dan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di lingkungan sosial maupun keluarga.

“Kekerasan anak sekarang muncul di banyak tempat, bahkan sampai tingkat TK dan SD. Ini juga tidak menutup kemungkinan terjadi di pondok pesantren,” ujarnya.

Karena itu, Taj Yasin berharap Forsan Jateng dapat menjadi mitra pemerintah dalam membangun lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah anak. Ia juga mendorong forum tersebut memperluas jejaring hingga seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah serta berkolaborasi dengan organisasi kepesantrenan lain dalam penguatan edukasi perlindungan anak.

“Dengan adanya Forum Santri Anak ini, saya berharap pesantren-pesantren bisa semakin aktif mencegah kekerasan dan membangun budaya saling menjaga antar-santri,” katanya.

Share This Article