SEMARANG, Reaksi Nasional – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Semarang mendorong penguatan peran perempuan, khususnya para kader, dalam sektor pertanian perkotaan (urban farming) dan pengelolaan bank sampah.
Komitmen tersebut ditekankan dalam Pertemuan Rutin Triwulan PC Fatayat NU Kota Semarang yang mengusung tema “Fatayat NU Eco-Agriculture: Transformasi Petani Milenial dengan Zero Waste”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Minggu (4/1/2026).
Ketua PC Fatayat NU Kota Semarang, Hj. Istighfaroh, menyatakan bahwa gerakan ini bertujuan meningkatkan kepedulian ibu-ibu muda terhadap lingkungan sekaligus memberdayakan ekonomi keluarga.
“Mulai sekarang, kesadaran peduli lingkungan harus terus ditekankan. Kader Fatayat memiliki tugas memilah dan mengelola sampah, serta memperkuat gerakan pertanian perkotaan,” ujar Istighfaroh.
Manfaatkan Barang Bekas
Menurut Istighfaroh, konsep petani milenial di perkotaan tidak identik dengan lahan luas atau lumpur. Kader didorong memanfaatkan barang bekas rumah tangga, seperti galon air mineral, sebagai media tanam.
Saat ini, Kelurahan Meteseh, khususnya di RW 6, telah menjadi basis percontohan program tersebut. Istighfaroh menilai, urban farming tidak hanya efektif mengurangi volume sampah ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS), tetapi juga bernilai ekonomis.
“Paling tidak nanti bisa petik cabai atau sayuran sendiri untuk memasak, sehingga mengurangi anggaran belanja,” tambahnya.
Apresiasi Pemerintah Kota
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, yang hadir mewakili Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti, mengapresiasi inisiatif Fatayat NU. Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan upaya pemerintah menangani persoalan sampah yang kini menjadi isu nasional.
“Sangat menarik apa yang dilakukan Fatayat. Persoalan sampah ini mempengaruhi banyak sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi,” kata Iswar.
Iswar menilai Fatayat NU merupakan mitra strategis pemerintah karena basis massanya adalah ibu-ibu yang memegang peran kunci dalam manajemen rumah tangga.
“Pemerintah sangat konsen dengan isu ini. Tim Penggerak PKK sudah bergerak, dan kini Fatayat juga bergerak. Ibu-ibu adalah sasaran yang tepat untuk membawa aksi perubahan di lingkungan terkecil,” pungkasnya.

