Ekspor Furniture Jepara Tembus Rp3,29 Triliun, Pemkab Perkuat Inovasi dan Regenerasi Pengukir

5 Min Read
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyerahkan Kartu Mebel Jepara kepada pekerja mebel dan pengukir saat pembukaan Pelatihan Inovasi Produk dengan Ornamen Ukir di Pantai Kartini Jepara, Senin (22/6/2026).

, ReaksiNasional.com – Industri furniture masih menjadi sektor unggulan yang menopang perekonomian Kabupaten Jepara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor industri pengolahan pada tahun 2025 menyumbang 33,61 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jepara, sekaligus menjadi kontributor terbesar perekonomian daerah.

Kinerja sektor industri yang terus menguat turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jepara mencapai 5,41 persen pada 2025, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 4,26 persen. Di antara berbagai subsektor industri, furniture kayu tetap menjadi andalan dengan jumlah 892 perusahaan, nilai investasi lebih dari Rp1,17 triliun, serta menyerap 8.259 tenaga kerja.

Furniture kayu juga menjadi komoditas ekspor terbesar dari Jepara. Sepanjang 2025, nilai ekspor furniture kayu mencapai 197 juta dolar AS atau setara sekitar Rp3,29 triliun dengan jangkauan pasar di 114 negara. Angka tersebut berkontribusi sebesar 34,5 persen terhadap total nilai ekspor Jepara yang mencapai 570,85 juta dolar AS.

Untuk menjaga daya saing industri sekaligus melestarikan warisan seni ukir, Pemerintah Kabupaten Jepara melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) terus menggencarkan berbagai program pelatihan. Salah satunya melalui Pelatihan Inovasi Produk dengan Ornamen Ukir, Pelatihan Pemanfaatan Limbah Kayu, serta Penyerahan Kartu Mebel Jepara bagi pekerja mebel dan pengukir.

Kegiatan yang berlangsung pada 22 hingga 25 Juni 2026 di Pantai Kartini Jepara tersebut diselenggarakan Disperindag bekerja sama dengan Yayasan Pelestari Ukir (PELUK) Jepara yang dipimpin Hadi Priyanto.

Bupati Jepara Witiarso Utomo mengatakan, pelatihan tersebut memiliki nilai strategis bagi masa depan industri mebel ukir Jepara. Menurutnya, mebel ukir tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga merupakan karya seni warisan leluhur yang harus terus dijaga identitas dan keberlanjutannya.

“Jepara dikenal sebagai The World Carving Center atau pusat ukir dunia. Pelatihan inovasi produk dengan ornamen ukir bisa mendorong lahirnya desain-desain baru tanpa tercabut dari akar identitas Jepara,” ujar Bupati yang akrab disapa Mas Wiwit.

Ia menegaskan bahwa kemajuan industri mebel tidak semata-mata diukur dari tingginya nilai ekspor. Kesejahteraan para pekerja mebel dan pengukir yang menjadi bagian penting dalam setiap produk yang dihasilkan juga harus menjadi perhatian utama. Selain itu, kualitas karya Jepara harus terus dijaga agar tetap menjadi pilihan pasar internasional.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, berbagai program penguatan sektor mebel dan ukir terus disiapkan. Di antaranya Festival Ukir Internasional, pengembangan Museum Ukir Nusantara, Pasar Mebel Jepara, program UMKM Naik Kelas, hingga penerbitan Kartu Mebel Jepara sebagai basis data pekerja mebel dan pengukir yang lebih akurat.

“Saya telah menyiapkan program unggulan di sektor ini, mulai Festival Ukir Internasional, Pengembangan Museum Ukir Nusantara, Pasar Mebel Jepara, hingga UMKM naik kelas, serta Kartu Mebel Jepara yang sudah kita serahkan sebanyak 850 dari target 1.500 kartu,” ungkapnya.

Menurut Mas Wiwit, data yang terhimpun melalui Kartu Mebel Jepara akan membantu pemerintah menyusun program pembinaan yang lebih tepat sasaran, meningkatkan kompetensi pekerja, serta membuka akses berbagai dukungan pendidikan dan jaminan sosial bagi keluarga pekerja mebel dan pengukir.

Ia berharap Jepara tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil mebel, tetapi mampu berkembang menjadi pusat industri furniture dan ukir berkelas dunia yang memberikan manfaat ekonomi serta kesejahteraan yang lebih besar bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Kabupaten Jepara, Muhammad Abdul Chaq, menyatakan pihaknya akan fokus mengembangkan sektor ekonomi kreatif yang mendukung pariwisata dan industri ukir Jepara. Program yang disiapkan meliputi pengembangan dan promosi destinasi wisata, digitalisasi sektor pariwisata, hingga pengembangan produk suvenir dan oleh-oleh khas Jepara, termasuk mebel dan ukiran.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, pelaku industri, dan komunitas kreatif menjadi kunci untuk memperkuat posisi ukiran Jepara di pasar global. GEKRAFS Jepara juga siap mendampingi para pekerja mebel dan pengukir agar kesejahteraan mereka meningkat sekaligus mendorong regenerasi melalui pelibatan generasi muda dalam seni ukir.

“Kami GEKRAFS Jepara siap mendampingi dan mengawal program panjenengan semua, sehingga para pekerja mebel dan pengukir Jepara kesejahteraannya meningkat, dan generasi muda harus dikenalkan ukiran dan dilatih mengukir,” tegasnya.

Share This Article