Diduga Diskriminatif, Keluarga Calon Siswa Sesalkan Penolakan SPMB SD Islam Primadana Semarang

4 Min Read
Gerbang SD Islam Primadana Semarang yang menjadi lokasi proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, terkait aduan orang tua calon siswa yang mengaku mendapat perlakuan tidak konsisten dalam proses penerimaan.

, ReaksiNasional.com – Keluarga calon peserta didik baru berinisial VPA (6) menyayangkan proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026 di SD Islam Primadana Semarang. Mereka menilai terdapat perlakuan yang tidak konsisten dan diduga diskriminatif setelah calon siswa sempat dinyatakan diterima secara lisan, namun kemudian dinyatakan tidak diterima.

Orang tua calon siswa, Bowo Wiranto, mengungkapkan bahwa putrinya mengikuti proses pendaftaran dan observasi di SD Islam Primadana pada Selasa, 22 Juni 2026. Menurutnya, setelah observasi selesai dilakukan, salah seorang guru berinisial M menyampaikan secara lisan bahwa anaknya diterima sebagai calon peserta didik.

Dalam proses observasi tersebut, Bowo mengaku turut menjelaskan riwayat perkembangan putrinya, termasuk pengalaman saat masih menempuh pendidikan PAUD yang sempat memiliki fokus belajar pendek. Ia mengatakan kondisi tersebut telah mengalami perkembangan setelah mendapatkan pendampingan dari keluarga.

“Saya menceritakan kondisi anak saya kepada guru agar memahami latar belakangnya. Setelah observasi, secara lisan anak saya dinyatakan diterima,” ujarnya, Minggu (27/6/2026).

Menurut Bowo, guru tersebut juga sempat menyampaikan bahwa sekolah pernah menangani peserta didik dengan kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sehingga keluarga semakin yakin memilih SD Islam Primadana sebagai tempat pendidikan putrinya.

Bowo menambahkan, hasil konsultasi yang pernah dilakukan terhadap kondisi anaknya tidak menunjukkan adanya diagnosis ADHD. Ia menyebut putrinya hanya tergolong aktif dan memiliki kreativitas yang berbeda dibanding anak seusianya.

Setelah dinyatakan diterima secara lisan, Bowo bermaksud menyelesaikan administrasi pembayaran. Namun, pihak sekolah meminta dirinya berkoordinasi dengan ketua panitia penerimaan siswa baru. Melalui komunikasi WhatsApp, panitia menyampaikan agar keluarga menunggu proses selanjutnya.

Keesokan harinya, keluarga justru menerima pesan WhatsApp yang menyatakan VPA tidak diterima. Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa SD Islam Primadana menerapkan dua kurikulum dengan beban mata pelajaran yang dinilai cukup banyak sehingga sekolah menyarankan calon siswa bersekolah di tempat lain yang memiliki beban pelajaran lebih sedikit agar lebih fokus.

Merasa kebingungan dengan perubahan keputusan tersebut, Bowo kemudian menghubungi pihak sekolah, termasuk guru yang sebelumnya melakukan observasi. Menurutnya, guru tersebut menyampaikan permohonan maaf dan menjelaskan bahwa keputusan akhir berada di tangan panitia penerimaan siswa baru.

Pada Kamis, 25 Juni 2026, pihak sekolah mengundang orang tua calon siswa untuk memberikan klarifikasi. Dalam pertemuan tersebut, Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru SD Islam Primadana, Tri Agung, menjelaskan bahwa sekolah menerima peserta didik dari berbagai latar belakang, namun mempertimbangkan kekhawatiran bahwa kondisi calon siswa dapat memengaruhi peserta didik lainnya. Pihak sekolah juga menyampaikan bahwa sebelumnya belum pernah mengeluarkan surat resmi yang menyatakan calon siswa diterima.

Beberapa hari kemudian, tepatnya Sabtu, 27 Juni 2026, keluarga kembali dihubungi melalui panggilan WhatsApp dan diinformasikan bahwa VPA resmi tidak diterima sebagai peserta didik di SD Islam Primadana. Sekolah juga menyampaikan bahwa biaya pendaftaran akan dikembalikan.

Bowo mengaku telah meminta surat resmi penolakan dari pihak sekolah, namun hingga saat ini surat tersebut belum diterimanya.

Ia berharap pengalaman yang dialaminya dapat menjadi perhatian seluruh lembaga pendidikan agar proses penerimaan peserta didik dilakukan secara transparan, konsisten, dan menjunjung prinsip keadilan bagi setiap calon siswa.

“Semoga pengalaman saya mencari sekolah terbaik untuk anak tidak dialami orang tua lain. Saya juga berharap SD Primadana tetap dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui proses penerimaan siswa yang lebih baik,” tuturnya.

Share This Article