Ad image

Di Balik Foto Seremonial, Ada Keringat Relawan MBG Bogor yang Tak Pernah Terekam Kamera

3 Min Read

, reaksinasional.com – Dalam setiap laporan dokumentasi program sosial, lensa kamera seringkali hanya membingkai sisi-sisi yang indah dan tertata rapi. Deretan kotak makanan yang tersaji presisi, antrean warga yang tertib, hingga senyum sumringah para ibu hamil dan balita saat menerima paket Makanan Bergizi Gratis (MBG). Namun, di balik bingkai foto seremonial tersebut, terdapat realitas kerja keras yang jarang tersorot, sebuah dinamika “dapur” yang sesungguhnya menjadi nyawa dari keberhasilan program ini.

Copy of DSCF6162 min

Realitas sunyi inilah yang dirasakan sehari-hari oleh para pegiat di Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) Sedap Malam, Bogor. Di sana, tidak ada kilatan lampu kilat kamera saat para relawan harus menghitung ulang porsi makanan karena data penerima berubah mendadak di menit-menit akhir. Lensa juga luput merekam momen krusial ketika para kader terlibat diskusi alot demi menyesuaikan jadwal distribusi, atau saat mereka dengan sabar menjawab kecemasan seorang ibu mengenai menu yang aman bagi anaknya yang alergi.

Copy of DSCF6155 min

Yuni Prameswari, salah satu relawan dapur di SPPG Sedap Malam, mengungkapkan bahwa justru hal-hal yang tak kasat mata itulah yang paling menguras energi. Menurutnya, berbagai kendala teknis dalam proses penyiapan makanan harus tuntas sebelum matahari terbit, tanpa ada ruang untuk mengeluh. Bagi Yuni dan rekan-rekannya, membereskan masalah tanpa banyak bicara adalah bentuk profesionalisme relawan, meskipun tidak ada yang memberi tepuk tangan.

Copy of DSCF6153 min

Detail-detail kecil yang tak terpotret itu seringkali menyangkut keputusan vital. Misalnya, keberanian kader untuk menahan satu porsi makanan demi alasan keamanan pangan karena penerimanya belum datang tepat waktu, atau perdebatan serius mengenai jam makan balita agar asupan gizi tidak terlambat masuk. Keputusan-keputusan “kecil” ini memiliki dampak besar bagi kesehatan penerima manfaat, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Bagi para penerima manfaat, kehadiran program MBG lebih dari sekadar seremoni pembagian. Irma, seorang ibu hamil yang rutin mendapatkan layanan di , mengaku bahwa ketenangan batinnya bukan berasal dari foto-foto kegiatan yang beredar, melainkan dari konsistensi layanan. Baginya, kepastian jadwal kedatangan makanan dan kualitas menu yang diterima jauh lebih berharga daripada dokumentasi visual semata.

Relawan MBG Bogor

Fenomena kerja sunyi ini digambarkan oleh Rusli, Asisten Lapangan SPPG, sebagai sebuah “jaringan halus”. Ia mengibaratkan peran relawan di balik layar sebagai pondasi yang menopang seluruh struktur program. Rusli mengingatkan, jika jaringan halus yang tak terlihat ini terputus, maka tampilan luar yang tampak rapi dan megah dalam laporan bisa seketika goyah dan runtuh.

Pada akhirnya, keberhasilan program gizi untuk mengentaskan dan menjaga kesehatan ibu anak tidak ditentukan oleh seberapa bagus foto yang dihasilkan, melainkan oleh ketulusan kerja-kerja senyap tersebut. Momen-momen tanpa sorotan kamera itulah yang justru membangun kepercayaan publik dan memastikan setiap suap nasi yang sampai ke masyarakat benar-benar aman, tepat waktu, dan penuh gizi. (*)

Share This Article