BATANG, ReaksiNasional.com – Curah hujan tinggi yang melanda wilayah Kabupaten Batang sejak akhir 2025 memicu terjadinya longsor yang sempat memutus akses jalan dan jembatan Dukuh Pranten–Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang. Longsor dengan panjang terdampak sekitar satu kilometer tersebut terjadi di ruas jalan Rejosari Sigemplong dan merupakan rangkaian dari guguran material yang telah berlangsung sejak akhir November 2025.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Batang, Muhammad Fajeri, menjelaskan bahwa pada akhir November 2025 sempat terjadi guguran kecil yang belum menutup jalan. Namun, longsor susulan pada akhir Desember menyebabkan material menutup akses secara total sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Ia menambahkan, sejak November 2025 Kabupaten Batang telah ditetapkan dalam status siaga darurat bencana menyusul meningkatnya intensitas hujan dan cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, angin kencang, hingga hujan es di sejumlah wilayah. Akibat kejadian tersebut, akses vital warga Desa Pranten sempat lumpuh karena jalan yang tertutup longsor merupakan jalur utama aktivitas pendidikan dan perekonomian masyarakat.
Selama akses tertutup, warga terpaksa memutar sejauh 10 hingga 15 kilometer untuk mencapai tujuan, baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Meski demikian, BPBD Batang memastikan tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sebagai langkah penanganan, BPBD bersama Pemerintah Desa Pranten, masyarakat, dan relawan Desa Tangguh Bencana melakukan kerja bakti membersihkan material longsor, disertai pendampingan dan edukasi kesiapsiagaan bencana.
BPBD Batang juga mengaktifkan kembali perangkat komunikasi handy talky untuk memudahkan koordinasi lintas desa, kecamatan, hingga pemerintah daerah. Selain itu, bantuan logistik berupa sembako, terpal, velbed, dan matras turut disalurkan untuk mendukung kegiatan di posko siaga desa. Setelah pembersihan rampung, akses jalan Rejosari Sigemplong kini telah dapat dilalui kembali oleh kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan imbauan agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi pergerakan tanah selama musim hujan.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batang, Rusmanto, mengingatkan bahwa tingginya curah hujan memperbesar risiko longsor di wilayah yang memiliki kondisi lahan kritis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Batang, dari total 67.260 hektare lahan pada 2024, sebagian besar berada dalam kategori sangat kritis, kritis, berpotensi kritis, dan agak kritis.
Rusmanto merinci, lahan sangat kritis mencapai 1.050 hektare, lahan kritis 3.826 hektare, potensi kritis sekitar 9.500 hektare, dan agak kritis mencapai 20.200 hektare. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan alarm serius bagi kelestarian lingkungan sekaligus keselamatan warga yang bermukim di bawah lereng perbukitan, terutama di wilayah tangkapan air yang krusial.
Ia menyebutkan bahwa sejumlah kawasan seperti Gerlang di Kecamatan Blado, Kecamatan Bawang, Reban, dan Bandar menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Upaya mitigasi telah dilakukan melalui penghijauan kembali dengan penanaman bibit pohon keras di sejumlah titik resapan air, termasuk di Desa Tombu, Kecamatan Bandar, dan wilayah Bleder, Gerlang, Kecamatan Blado.
Rusmanto juga menyoroti alih fungsi lahan menjadi pertanian semusim, khususnya hortikultura di wilayah lereng curam, sebagai salah satu pemicu utama kerentanan longsor. Tanpa keberadaan tegakan pohon keras yang mampu mengikat tanah, aktivitas pertanian tersebut dinilai berpotensi memperparah kerusakan lingkungan dan meningkatkan risiko bencana saat hujan deras terjadi.

