Buruan Sae Jadi Contoh Ketahanan Pangan Berbasis RW di Kota Bandung, Farhan Turun Langsung

3 Min Read
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meninjau lokasi Buruan Sae RW 09 Kelurahan Babakan Ciparay, Kecamatan Babakan Ciparay, Selasa (20/1/2026).

, ReaksiNasional.com – Program sebagai upaya ketahanan pangan berbasis kewilayahan di Kota Bandung terus menunjukkan hasil positif. Keberhasilan Buruan Sae RW 09 Kelurahan Babakan Ciparay bahkan menarik perhatian Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang turun langsung meninjau lokasi pada Selasa (20/1/2026).

Ketua RW 09 Babakan Ciparay, Agus Tantan, menjelaskan Buruan Sae di wilayahnya dikembangkan dengan memadukan pertanian konvensional dan teknologi modern. Pola tersebut diterapkan untuk mengoptimalkan lahan terbatas agar tetap produktif dan berkelanjutan.

“Di bawah kita pakai tanah tradisional, di atasnya hidroponik. Produksi sudah rutin, sudah ada member yang ambil, jadi sudah berputar dan menghasilkan,” ujar Agus.

Ia menyebut, hasil panen Buruan Sae tidak hanya memberi nilai ekonomi, tetapi juga berdampak sosial bagi warga. Sebagian hasil produksi disalurkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam upaya pencegahan stunting.

“Sebagian hasil Buruan Sae kita subsidi untuk warga. Harapannya ke depan persoalan stunting bisa kita atasi sendiri di RW 09,” ucapnya.

Penguatan ketahanan pangan tersebut juga didukung sektor lain seperti perikanan, peternakan, serta pengolahan sampah melalui magotisasi atau budidaya maggot. Menurut Agus, keterbatasan lahan justru mendorong lahirnya inovasi dengan memanfaatkan ruang-ruang alternatif di lingkungan RW.

“Maggotisasi sudah mulai, masih tahap percobaan sekitar lima baki. Karena lahan terbatas, kita manfaatkan rooftop yang ada di wilayah RW 09,” jelasnya.

Ke depan, RW 09 merencanakan pengembangan lanjutan berupa budidaya cabai rawit, perikanan ikan hias dan ikan konsumsi, serta penghijauan lingkungan yang terintegrasi dalam satu ekosistem Buruan Sae.

“Semua nanti akan sinkron dalam satu ekosistem Buruan Sae Barokatumaninah RW 09,” ungkap Agus.

Lokasi Buruan Sae RW 09 sendiri memanfaatkan lahan kosong di rumah seksi lingkungan hidup yang sebelumnya tidak produktif. Area tersebut awalnya dipenuhi pepohonan liar dan kemudian dialihfungsikan menjadi lahan pertanian sayuran dan tanaman toga.

“Awalnya seperti hutan, banyak pohon besar. Kita alihfungsikan menjadi tanaman yang lebih produktif,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memberikan arahan terkait peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan warga Kelurahan Babakan Ciparay. Selain mendukung pengembangan Buruan Sae sebagai pusat ketahanan , ia juga menyoroti persoalan rumah tidak layak huni yang harus segera ditangani.

Lurah Babakan Ciparay, Tonny Sukmana, mengatakan wali kota meminta agar perbaikan rumah tidak layak huni tidak ditunda dan menjadi prioritas bersama.

“Arahan Pak Wali jelas, Rutilahu harus segera diperbaiki. Selain itu, Buruan Sae yang sudah berjalan diminta menjadi contoh dan dikembangkan di seluruh RW di Babakan Ciparay,” kata Tonny.

Saat ini, Kelurahan Babakan Ciparay telah memiliki tiga Buruan Sae aktif dari total sembilan RW. Enam RW lainnya ditargetkan segera menyusul agar program ketahanan pangan berbasis lingkungan dapat merata.

“Sekarang baru ada tiga. Artinya masih ada enam RW yang harus kita dorong agar setiap RW punya Buruan Sae,” pungkasnya. (*)

Share This Article